Berburu Kebuasan Manusia

(Harian Bhirawa, 24 November 2017)

Seorang pembaca berperasaan dangkal yang mengharapkan sebuah cerita cinta dari buku ini jelas akan gampang merasa tertipu setelah membaca novel tipis berjudul amat romantis, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (2017).

Meskipun judul novelnya gampang mengecoh, Luis Sepulveda sebenarnya tidak benar-benar membual. Novel yang secara apik diterjemahkan oleh Ronny Agustinus ini memang berbicara banyak tentang cinta, tetapi dalam arti yang amat ideologis: alam, orang lain (liyan), maupun kemungkinan cinta yang hadir dalam kebuasan seekor macan kumbang. Lewat ceritanya, Sepulveda menawarkan sebuah bacaan sastra-ekologis yang menjungkirbalikkan pandangan antroposentrisme sekaligus memperlihatkan sisi gelap kebuasan dalam diri manusia.

Novel ini berlatar sebuah perkampungan di pedalaman Ekuador bernama El Idilio, rumah bagi orang-orang indian Shuar. Sepulveda mengajak kita berpetualang menerobos belantara Amazon, keudikan orang-orang yang menyatu dengan alam, serta merasa memiliki kebebasan dapat “mengucilkan diri” dari peradaban modern yang mereka cela setengah mati.

Semenjak awal kita telah disodori ocehan mengenai kebencian terhadap pemerintah, kedatangan para pendulang emas di hutan Amazon yang menimbulkan keresahan. Orang Shuar menyebut mereka sebagai bule-bule yang membawa senapan, merambah hutan, menembak dan berburu di hutan seenaknya. Continue reading “Berburu Kebuasan Manusia”

Iklan

Membaca Pramoedya, Menafsir Indonesia

(Koran Sindo, 12 November 2017)

Sejak ditulis Pramoedya empat dekade lalu, novel Bumi Manusia hingga hari ini dianggap sebagai salah satu karya terpenting dalam kesusastraan kita. Sulit dipungkiri, Bumi Manusia adalah karya terbaik Pram. Tanpa bisa dibantah, tak ada pengarang kita yang seambisius Pram. Seperti dikatakan Max Lane, karya-karya Pram tak lain sebagai ambisi Pram untuk menafsir sejarah nusantara dari abad XI hingga lahirnya nasionalisme Indonesia di abad XX.

Bagi Max Lane, karya-karya Pramoedya membuktikan kejeniusan pemikiran politik dan estetiknya. Tentu saja Max bukan seorang pembual. Dirinya penerjemah enam buku Pram ke dalam bahasa Inggris. Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia adalah esai-esai penting Max yang mengulik karya-karya Pram sebagai pandangannya tentang sejarah kemunculan Indonesia, dan ide-ide politik yang termuat di dalamnya. Dengan rendah hati Max mengutarakan, “Bukunya ini bukan buah dari duduk bertahun-tahun di balik meja akademik, melainkan sebagian dari pengalaman dan petualangan saya di Indonesia.”

Seturut judulnya, Max mengantar kita untuk mendedah mengapa dalam tetralogi Bumi Manusia tak pernah sekalipun menyinggung ‘Indonesia’. Absennya Indonesia adalah sebuah kesengajaan. Pramoedya bagi Max hendak menunjukkan Indonesia adalah suatu hal yang seluruhnya baru. Pram menolak gagasan Indonesia sebagai perwujudan modern dari ‘pra-Indonesia’. Pram bertentangan dengan Orde Baru dan para sejarawan yang melacak Indonesia kembali merujuk ke Sriwijaya dan Majapahit.

Dalam pembacaan Max, Pram memandang Indonesia tidak hadir sebagai kesinambungan dengan masa lampau, justru penolakan terhadap masa lampau. Pram mengakui keterputusan sejarah itu. Itu terlihat misalnya ketika Ibunda Minke dalam Bumi Manusia ditampilkan mengucapkan kata-kata, “Mengapa engkau mencoba begitu keras untuk menjadi selain dari anak ibumu?” (hlm. 169). Continue reading “Membaca Pramoedya, Menafsir Indonesia”

Terbang Sudah

(Cerpen Terjemahan)

images

Etgar Keret

Adalah P.T. yang pertama melihatnya. Kami dalam perjalanan menuju ke taman untuk bermain bola sewaktu ia tiba-tiba berkata, “Papa, lihat.” Kepalanya menoleh dan ia berusaha menyipitkan matanya untuk melihat sesuatu yang jauh di atasku, dan sebelum aku bahkan bisa membayangkan sebuah pesawat ruang angkasa asing atau piano jatuh di atas kami, firasatku mengatakan bahwa sesuatu yang amat buruk sedang terjadi. Tapi, saat aku berpaling untuk melihat apa yang P.T. temukan, yang kudapati ialah sebuah bangunan empat lantai yang jelek, penuh tambalan dan bopeng dengan pendingin ruangan, seakan bangunan itu memiliki penyakit kulit. Matahari menggantung tepat di atas sana, menyilaukanku, dan saat aku berusaha mendapat sudut pandang yang lebih baik, aku mendengar P.T. bilang, “Dia ingin terbang.” Kini aku dapat melihat seorang pemuda mengenakan kemeja putih berkancing menatapku, dan, di belakangku P.T. berbisik, “Apakah dia seorang superhero?”

Alih-alih menjawab, aku berteriak pada pemuda itu, “Jangan lakukan itu!”

Pemuda itu hanya menatapku.

Aku berteriak lagi, ”Tolong, jangan lakukan itu! Apapun yang membuatmu sampai di atas, itu pasti seperti sesuatu yang tidak akan bisa kau lalui, tapi percayalah, kau bisa! Jika kau melompat sekarang, kau akan meninggalkan dunia ini dengan perasaan buntu itu. Dan itu akan menjadi ingatan terakhir dalam hidupmu. Bukan keluarga, bukan cinta, cuma kekalahan. Jika kau bertahan, aku berani sumpah padamu, atas semua yang kusayangi, bahwa rasa sakitmu itu akan mulai pudar, dan dalam beberapa tahun, satu-satunya yang tersisa dari itu akan menjadi sebuah cerita aneh yang kau ceritakan pada orang-orang sambil meneguk bir. Sebuah cerita tentang bagaimana kau suatu kali ingin terjun dari atap dan beberapa orang yang berdiri di bawah meneriakimu …”

“Apa?” pemuda di atap itu berteriak balik padaku, sambil menunjuk telinganya. Ia mungkin tak dapat mendengarku lantaran suara bising yang datang dari jalanan. Atau mungkin bukan itu, sebab aku mendengar ia bilang “apa” dengan amat jelas. Mungkin ia hanya budek saja.

P.T. memeluk pahaku tanpa dapat melingkari sepenuhnya, seolah-olah aku ini sejenis pohon Baobab raksasa, berteriak pada pemuda itu, “Apakah kau punya kekuatan super?”

Tapi pemuda itu menunjuk ke telinganya lagi, seakan-akan ia tuli, dan berteriak keras, “Aku sakit karenanya! Cukup! Sebanyak apa rasa sakit yang bisa kuterima?”

P.T. berteriak kembali kepadanya, seakan-akan mereka memiliki percakapan paling biasa di dunia, “Ayolah, terbang sudah, sana!” Continue reading “Terbang Sudah”

Berdoa dalam Puisi

(Lampung Post, 12 Maret 2017)

C6wumr6VAAACFPP.jpg large

Barangkali tak ada yang lebih khusyuk dari doa dalam puisi. Kadang sebuah doa menjelma puisi, sebuah puisi menjelma doa. Banyak doa berkelindan dalam puisi-puisi. Sebab seperti halnya puisi, doa adalah perantara. Doa adalah penghubung pendoa dengan Tuhan, orang tua, kekasih, dan orang lain. Doa melipat jarak. Doa kadang dapat kita ibaratkan seperti pak pos yang setia mengantarkan pengharapan, syukur, rindu, bahagia, sendu, bahkan kematian. Kita hidup dalam doa-doa. Demikianlah pula penyair ketika sedang berdoa, menasbihkan semesta lewat puisi-puisinya.

Dan seperti halnya doa, puisi pun adalah medium. Setidaknya itu yang dipercayai oleh penyair Sapardi Djoko Damono dalam prosanya, Hujan Bulan Juni (2015) yang juga merupakan gubahan puisinya. “Puisi itu medium, dan medium itu dukun,” bisik Sawono, tokoh dalam novel tersebut. Kita mudah menduga, pandangan Sapardi mengenai puisi seperti termanifestasi dalam diri tokoh Sarwono –yang juga dikisahkan sebagai seorang penyair.

Sarwono percaya kalau manusia yang sama-sama masih hidup bisa berkomunikasi tanpa harus bertatap muka. Dalam kerinduan yang melelahkan hati, ia percaya puisi adalah doa yang dapat menghubungkan perasaannya dengan kekasihnya, Pingkan. Ia yakin, puisi yang ia tulis akan sampai ke tambatan hatinya. Meski kemudian pembaca akan menyadari puisi yang ditulis oleh Sarwono tersebut layaknya medium, seperti pesan perpisahan. Dalam puisinya “Tiga Sajak Kecil” Sarwono berfirasat, kita tak akan pernah bertemu:/ aku dalam dirimu/ tiadakah pilihan/ kecuali di situ?/ kau terpencil dalam diriku.

Sama halnya Sarwono, Sapardi memang kerap “berdoa” dalam puisi-puisinya. Ia dikenal sebagai Penyair Hujan lantaran koleksi puisinya tentang hujan, seperti: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Di Beranda Waktu Hujan, Percakapan Malam Hujan, Kuhentikan Hujan, dan Sihir Hujan. Bukan hanya Sapardi, banyak penyair mengubah puisi tentang hujan. Momen hujan turun kerap diasosiasikan melahirkan suasana transendental. Kita menyangka, dalam hujan para penyair berdoa lewat puisinya. Continue reading “Berdoa dalam Puisi”

Hilangnya Martabat Guru

(Koran Sindo, 5 Maret 2017)

17125429_737006783128850_4605515520517603328_n

Tidak banyak kisah nonfiksi maupun fiksi yang mengangkat guru sebagai sosok yang manusiawi. Yakni memperlihatkan guru sebagai manusia biasa yang tidak luput dari pelbagai luapan perasaan sentimentil seperti rasa kecewa, marah, putus asa dan menyesal. Padahal nyatanya kita perlu kisah alternatif, misalnya guru tidak melulu digambarkan sebagai sosok Umar Bakri yang selalu ikhlas dan sabar mengabdi tanpa pamrih. Amat manusiawi apabila seorang guru merasakan banyak ketidakberpihakan yang menimpa dirinya.

Aib dan Martabat yang ditulis oleh Dag Solstad ini adalah sebuah novel yang menarasikan guru secara jujur. Guru bukan orang suci, melainkan juga merasakan pergumulan harga diri maupun nasibnya yang terasa tidak mudah dan melemahkan, hingga memaksa seorang guru jatuh dalam aib. Melalui novel ini kita diajak Dag Solstad untuk mempertanyakan martabat seorang guru di sekolah dan masyarakat.

Novel ini dibuka dengan pengisahan seorang guru berusia 50-an yang cukup sering minum-minum hingga mabuk. Dari membaca paragraf pertama dalam novel ini saja dengan mudah pembaca akan merasa telah dijanjikan sebuah cerita yang suram dan murung. “Hari itu begitu kelabu dan berat, langit kelam, dan awan hitam berarak melintas.” Dia merasa kepalanya agak pusing saat sedang sarapan di meja makan, dan belum menyadari bahwa hari itu bakal menjadi hari yang menentukan dalam hidupnya.

Guru tersebut bernama Elias Rukla. Dia ada di Olso, ibukota Norwegia, dan bekerja sebagai guru pelajaran sastra di sekolah menengah atas, Fargerborg. Setiap hari dia mesti mengadapi murid-muridnya yang tak berminat pada pelajaran sastra. Membaca halaman demi halaman dalam novel tipis ini pembaca akan mencercap perasaan terisolasi dan ketidakbahagiaan hidup, terkesiap dengan setiap jengkal paradoks yang dihadirkan dalam cerita. Continue reading “Hilangnya Martabat Guru”