Toko Buku, Kota dan Makna

(Koran Tempo, 23 Desember 2017)

Kita senantiasa menjumpai novel-novel yang berkisah tentang buku. Dari The Savage Detectives karya Roberto Bolano, Un viejo que leia historias de amor (Luis Sepulveda), hingga La casa de papel (Carlos Maria Dominguez). Bagi pencinta buku, novel-novel tentang buku sangat menggoda. Pencinta buku lekas kepincut oleh novel yang menghadirkan buku sebagai latar, dengan tebaran kutipan buku-buku karangan penulis terkenal, dan bertokohkan seorang pembaca buku.

Agaknya hal itu pula yang menjadi strategi Gabrielle Zevin saat menggarap novel The Storied Life of A.J. Fikry. Dalam novel ini, kita akan menjumpai cara lain Zevin memikat pembaca melalui penyebutan buku dan nama pengarang dunia, seperti A Farewell to Arms (Ernest Hemingway), A Perfect Day for Bananafish (J.D. Salinger), dan The Great Gatsby (Scott Fitzgerald). Meski Zevin mengakui bahwa gagasan menulis novel ini muncul dalam sebuah perjalanan bersama Mark Gates-seorang wiraniaga untuk penerbit ternama Farrar Straus Giroux-dalam suatu tur bukunya.

Novel tersebut berkisah tentang A.J. Fikry, pemilik toko buku independen di Pulau Alice, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia tinggal di apartemen di atas toko bukunya. Depresi lantaran istrinya meninggal, Fikry menjadi penyendiri, menjauh dari orang-orang, dan gampang tersinggung dalam perkara buku. Lewat Fikry, Zevin menyodori kita tokoh seorang pembaca buku yang sinis, dengan cara pandang kuno, dan angkuh terhadap sejumlah buku: “Aku muak terhadap novel-novel karya bintang televisi realitas yang ditulis penulis bayangan, buku foto selebriti, memoar olahraga, edisi dengan sampul poster film, barang-barang koleksi, dan-kurasa ini tidak perlu dikatakan lagi-vampir.”

Meski seorang penjual buku, Fikry digambarkan sebagai pembaca yang amat kritis dalam memilih buku-buku untuk dijual. Bukannya menyediakan buku sesuai dengan selera pembeli, ia hanya menjual buku yang diminatinya. Akibatnya, toko itu kekurangan pembeli; penjualan semakin merosot; dan puncaknya saat buku langka dan mahal, yakni kumpulan puisi Edgar Allan Poe, Tamerlane, miliknya dicuri. Continue reading “Toko Buku, Kota dan Makna”

Iklan

Ber(t)obat dengan Buku

(Koran Sindo, 17 Desember 2017)

Kita dapat menjumpai berbagai alasan seseorang membaca buku. Episode berbuku mungkin ditemukan dalam waktu senggang, mengusir kebosanan, dan penghiburan. Sepanjang itu pula narasi tentang buku kerap dikaitkan dengan laku intelektual maupun sebagai cerminan budaya kelas menengah di kota. Tetapi tidak demikian bagi Perdu, tokoh dalam buku Nina George ini. Dalam buku Toko Buku Kecil di Paris, kita akan diajak menjumpai kisah tidak biasa mengenai buku.

Buku ini berkisah tentang Monsieur Jean Perdu, pemilik sebuah toko buku apung Literacy Apothecary di Sungai Seine, Paris. Toko buku “Apotek Kesusastraan” Jean Perdu demikian istimewa karena di sana dia menentukan buku bagi pengunjungnya, memilihkan buku yang benar-benar mereka butuhkan untuk diri mereka. Seakan-akan Perdu dapat masuk ke dalam jiwa para pembeli bukunya. Perdu mengaku dapat memilihkan buku lebih baik ketimbang para pembelinya memilih buku sendiri.

Perdu bukan penjual buku biasa. Perdu menyebut dirinya apotek literatur. Layaknya seorang apoteker, Perdu meresepkan novel-novel kepada pembelinya sebagai obat untuk meringankan kegalauan hidup. Misalnya, ketika seorang wanita yang diceraikan suaminya datang ke apotek bukunya, Perdu menyarankan untuk membaca Elegance of The Hedgehog karya Muriel Barbery.

Perdu lalu menasehati, “Anda perlu ruang tersendiri. Jangan terlalu terang, dengan selalu ditemani anak kucing. Dan buku ini tolong dibaca lambat-lambat agar Anda bisa beristirahat sekali-sekali. Anda akan banyak berpikir dan mungkin sedikit menangis. Untuk diri sendiri. Untuk tahun-tahun yang berlalu. Tapi Anda akan merasa lebih lega setelahnya.” (hlm. 23). Continue reading “Ber(t)obat dengan Buku”

Difabel dan Narasi Ketidaksetaraan

(Solopos, 4 Desember 2017)

Tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas. Ada pergantian dari apa yang dulu kita sebut sebagai Hari Penyandang Cacat. Istilah cacat gampang mengandaikan tubuh manusia seperti barang. Maka istilah yang amat diskriminatif dianggap mendesak untuk diganti. Meskipun demikian, eufemisme bahasa tidak lekas mengangkat kelompok difabel dari posisi inferiornya. Kita masih saja menjumpai ketidakadilan dalam pelbagai narasi tentang difabel.

Selama ini kita masih menyangsikan keterlibatan difabel dalam wacana pembangunanisme. Laju kencang modernitas belum dibarengi pemartabatan bagi difabel. Kelompok difabel masih mendapati dirinya bergelimang pelabelan dan diskriminasi di tengah ruang publik. Kota-kota belum sepenuhnya menjadi cerminan ruang publik yang setara dan inklusif. Sebagai minoritas, narasi difabel masih menjadi warga negara kelas dua dalam pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial, agama maupun budaya.

Di antara isu minoritas lain seperti perempuan, LGBT, dan ras “bukan pribumi”, barangkali difabel adalah minoritas yang paling minim mendapat silang-sengkarut wacana di ruang publik. Setidaknya dapat dilacak dari tidak banyak publikasi menyangkut minoritas difabel yang tampil di surat kabar atau media sosial. Kita menduga, menguatnya islamisme yang kental mewarnai corak masyarakat Indonesia mutakhir, seperti dituturkan Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan (2015), telah turut menyisihkan minoritas difabel dalam wacana arus utama di ruang publik.

Dengan kata lain, wacana difabel terabaikan lantaran tidak bersinggungan langsung dengan perbincangan mengenai Islam dan politik identitas pasca Orde Baru. Misalnya, apabila disandingkan dengan isu-isu minoritas mengenai perempuan atau LGBT yang kerap menjadi perdebatan masif di ruang publik. Argumentasi religiositas dan klaim agama selalu muncul dalam sengat-sengit perdebatan atas isu-isu tersebut. Di sisi lain, dalam Islam—sebagai agama mayoritas—persoalan difabel tidak pernah secara spesifik disebut dan mendapat perhatian serius dalam kajian-kajian. Continue reading “Difabel dan Narasi Ketidaksetaraan”

Berburu Kebuasan Manusia

(Harian Bhirawa, 24 November 2017)

Seorang pembaca berperasaan dangkal yang mengharapkan sebuah cerita cinta dari buku ini jelas akan gampang merasa tertipu setelah membaca novel tipis berjudul amat romantis, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (2017).

Meskipun judul novelnya gampang mengecoh, Luis Sepulveda sebenarnya tidak benar-benar membual. Novel yang secara apik diterjemahkan oleh Ronny Agustinus ini memang berbicara banyak tentang cinta, tetapi dalam arti yang amat ideologis: alam, orang lain (liyan), maupun kemungkinan cinta yang hadir dalam kebuasan seekor macan kumbang. Lewat ceritanya, Sepulveda menawarkan sebuah bacaan sastra-ekologis yang menjungkirbalikkan pandangan antroposentrisme sekaligus memperlihatkan sisi gelap kebuasan dalam diri manusia.

Novel ini berlatar sebuah perkampungan di pedalaman Ekuador bernama El Idilio, rumah bagi orang-orang indian Shuar. Sepulveda mengajak kita berpetualang menerobos belantara Amazon, keudikan orang-orang yang menyatu dengan alam, serta merasa memiliki kebebasan dapat “mengucilkan diri” dari peradaban modern yang mereka cela setengah mati.

Semenjak awal kita telah disodori ocehan mengenai kebencian terhadap pemerintah, kedatangan para pendulang emas di hutan Amazon yang menimbulkan keresahan. Orang Shuar menyebut mereka sebagai bule-bule yang membawa senapan, merambah hutan, menembak dan berburu di hutan seenaknya. Continue reading “Berburu Kebuasan Manusia”

Membaca Pramoedya, Menafsir Indonesia

(Koran Sindo, 12 November 2017)

Sejak ditulis Pramoedya empat dekade lalu, novel Bumi Manusia hingga hari ini dianggap sebagai salah satu karya terpenting dalam kesusastraan kita. Sulit dipungkiri, Bumi Manusia adalah karya terbaik Pram. Tanpa bisa dibantah, tak ada pengarang kita yang seambisius Pram. Seperti dikatakan Max Lane, karya-karya Pram tak lain sebagai ambisi Pram untuk menafsir sejarah nusantara dari abad XI hingga lahirnya nasionalisme Indonesia di abad XX.

Bagi Max Lane, karya-karya Pramoedya membuktikan kejeniusan pemikiran politik dan estetiknya. Tentu saja Max bukan seorang pembual. Dirinya penerjemah enam buku Pram ke dalam bahasa Inggris. Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia adalah esai-esai penting Max yang mengulik karya-karya Pram sebagai pandangannya tentang sejarah kemunculan Indonesia, dan ide-ide politik yang termuat di dalamnya. Dengan rendah hati Max mengutarakan, “Bukunya ini bukan buah dari duduk bertahun-tahun di balik meja akademik, melainkan sebagian dari pengalaman dan petualangan saya di Indonesia.”

Seturut judulnya, Max mengantar kita untuk mendedah mengapa dalam tetralogi Bumi Manusia tak pernah sekalipun menyinggung ‘Indonesia’. Absennya Indonesia adalah sebuah kesengajaan. Pramoedya bagi Max hendak menunjukkan Indonesia adalah suatu hal yang seluruhnya baru. Pram menolak gagasan Indonesia sebagai perwujudan modern dari ‘pra-Indonesia’. Pram bertentangan dengan Orde Baru dan para sejarawan yang melacak Indonesia kembali merujuk ke Sriwijaya dan Majapahit.

Dalam pembacaan Max, Pram memandang Indonesia tidak hadir sebagai kesinambungan dengan masa lampau, justru penolakan terhadap masa lampau. Pram mengakui keterputusan sejarah itu. Itu terlihat misalnya ketika Ibunda Minke dalam Bumi Manusia ditampilkan mengucapkan kata-kata, “Mengapa engkau mencoba begitu keras untuk menjadi selain dari anak ibumu?” (hlm. 169). Continue reading “Membaca Pramoedya, Menafsir Indonesia”