Merawat Dongeng dan Narasi

(Lampung Post, 1 April 2018)

Sekiranya setiap sekolah patut menyadari dongeng semenjak dulu telah menjadi bagian penting dalam keseharian dan tradisi kita. Tradisi mendongeng tidak hanya menjadi pengantar tidur semasa kanak-kanak. Dongeng juga dibacakan dan dituturkan guru kepada murid di sekolah. Ada pandangan mengenai guru yang baik ialah seorang pendongeng yang baik pula. Para guru dapat mengajar melalui dongeng. Sebuah dongeng dapat menjadi cara mengajar tanpa kehendak mengurui.

Dongeng dapat merangsang imajinasi, mengusik batin, dan menciptakan suasana belajar menjadi lebih menyenangkan. Anak-anak tumbuh bersama kisah-kisah. Kita membayangkan sebuah proses belajar melalui dongeng lebih gampang menyentuh hati anak-anak, dan melekatkan tujuan belajar itu sendiri. Anak belajar berimajinasi, mengasah nalar, belajar memberikan penilaian atas apa yang baik dan buruk lewat tokoh dalam cerita dongeng.

Cerita dalam dongeng kerap terus membekas tak terlupakan. Dongeng menjadi kenangan masa kecil yang banyak memberi pengaruh bagi sebagian besar orang ketika dewasa. Tanpa disadari dongeng-dongeng mengendap, dan menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Ajip Rosidi dalam buku Manusia Sunda (1984) percaya dalam tokoh-tokoh imajiner yang kita miliki, terutama dalam tokoh-tokoh legendaris yang hidup dalam masyarakat, dapat tercermin dan melukiskan watak, sifat, identitas, dan nilai yang dianut masyarakat itu sendiri.

Kita tahu, cerita rakyat ialah sebentuk dongeng yang diwariskan secara turun-temurun. Seturut dengan corak masyarakat kita yang kental akan budaya lisan. Berkisah menjadi sebuah tradisi. Tak ayal, dalam setiap masyarakat lokal banyak bergelimang cerita dongeng. Dari dongeng legenda asal-muasal tempat, semisal nama desa, sungai, gunung, danau, dan rawa, sampai kisah pewayangan yang kita sadur dari epos Ramayana dan Mahabarata. Pelbagai kisah tersebut menjadi suguhan semasa kanak-kanak yang sarat makna, filosofi, maupun tokoh dan pokok yang terkadang menjadi panutan sampai mati. Continue reading “Merawat Dongeng dan Narasi”

Iklan

Kesaksian Puisi, Trompet, dan Waktu

(Lampung Post, 11 Februari 2018)

Trompet dibunyikan, di langit nyala kembang api dan letupan petasan. Di setiap malam pergantian tahun, perayaan selalu menjadi agenda wajib bagi khalayak ramai. Kota-kota merasa perlu menyambut datangnya tahun baru dengan segenap kemeriahan. Orang-orang berbondong mengejar keramaian sekaligus kebisingan. Ragam tradisi, meluap bersama demi suka cita tahun baru. Di penjuru kota, orang-orang tidak ingin melewatkan kesaksian detik-detik pergantian tahun.

Tak ada tahun baru tanpa puisi. Para penyair melalui puisi-puisinya pun tidak luput untuk mencatat kesaksiannya. Di malam pergantian tahun, sebuah puisi dapat menjadi penting. Seakan mengingkari bising, para penyair tidak ingin kehilangan pemaknaan dan hening. Kata-kata juga dapat berkelebat di malam tahun baru. Puisi seakan dihadirkan tidak lain untuk mengusik diri para pembaca. Sebutlah, penyair Joko Pinurbo, yang merasa berkepentingan memantik puisi tentang tahun baru dalam himpunan puisinya yang bertajuk Baju Bulan (2013).

Kita mengenal Joko Pinurbo sebagai penyair yang puisi-puisinya dapat memberikan penafsiran baru terhadap waktu-waktu yang selama ini dikultulkan oleh para pemeluk agamanya. Dalam suatu wawancara Joko Pinurbo mengaku dirinya kerap membaca Injil dan menemukan “ada cara penghayatan iman yang dapat diperkaya.” Sebut saja puisi “Baju Bulan”, berbicara mengenai kritik terhadap keglamoran lebaran. Dan puisi “Celana Ibu” yang menafsir ulang religiousitas perayaan paskah. Dari luar puisi itu tampak seperti bercanda, namun sebenarnya sebentuk refleksi kritis mengenai iman, yakni melihat tuhan dari sisi keibuan.

Di dalam buku kumpulan puisinya itu, Joko pinurbo tak luput pula menaruh sejumlah sajak perihal tahun baru. Jokpin tampak memandang bagaimana laku kita di setiap momen pergantian tahun baru sebagai cara kita menafsir waktu. Misalnya saja dalam puisi “Terompet Tahun Baru” (2006). Di awal bait, Joko Pinurbo berkisah: Aku dan ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota/ untuk meramaikan malam tahun baru/ Ayah pilih menyepi di rumah saja/sebab beliau harus menemani kalender/ pada saat-saat terakhir. Continue reading “Kesaksian Puisi, Trompet, dan Waktu”

Sejarah Semesta Hawking

(Koran Tempo, edisi 27-28 Januari 2018)

Ilmuwan Bertrand Russel suatu kali memberi kuliah umum mengenai astronomi. Ia menjelaskan bagaimana bumi mengorbit matahari, dan bagaimana matahari pada saat yang sama mengorbit galaksi kita. Seorang nyonya tua kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang kau ceritakan kepada kami adalah sampah. Dunia sesungguhnya sebuah piring datar di atas punggung seekor kura-kura raksasa.” Russel tersenyum sebelum dengan enteng menjawab, “Di atas apakah kura-kura itu berdiri?” Si nyonya menjawab, “Ada kura-kura, banyak kura-kura, terus sampai ke bawah!”

Demikianlah paragraf pembuka dalam buku yang ditulis Stephen Hawking, A Brief History of Time. Hawking menulis bukunya itu pada 1988, dan anekdot tersebut terasa masih relevan kala dibacakan kembali sekarang. Betapapun sains membuat cara kita memahami alam semesta terus maju, pertanyaan mendasar apakah bumi bulat atau datar nyatanya masih menjadi perdebatan sengit di ruang publik maupun media sosial. Tidak sedikit yang percaya dan berkeras membuktikan bahwa bumi benar-benar datar. Maka, dapat kita bayangkan betapa tertinggalnya kita.

Seperti sebuah paradoks, Hawking mengaku menulis A Brief History of Time demi mengenalkan sains kepada masyarakat awam. Lewat buku tersebut, dia ingin menyampaikan gambaran mengenai kemajuan manusia menuju pemahaman lengkap atas hukum-hukum yang mengatur alam semesta, dari Dentuman Besar hingga keberadaan Lubang Hitam. Hawking yakin hampir semua orang tertarik pada cara kerja alam semesta, tapi kebanyakan tidak bisa mengikuti persamaan-persamaan alam semesta. Hawking sendiri merasa kurang peduli akan persamaan itu, dan berharap bukunya dapat menjelaskan sains dengan cara yang lebih sederhana, menyenangkan, dan gampang dimengerti.

Pengakuan tersebut dapat kita jumpai dalam buku ini, Sejarah Singkat Saya. Hawking mengawali bukunya dengan pernyataan bahwa dirinya lahir tepat 300 tahun sesudah kematian Galileo. Tentu saja Hawking melakukannya semata untuk memikat pembaca. Hawking memperkirakan ada sekitar 200 ribu bayi lahir pada 8 Januari 1942, tapi, “Saya tidak tahu apakah ada satu di antara mereka yang kemudian tertarik pada astronomi.” Continue reading “Sejarah Semesta Hawking”

Difabel dan Narasi Ketidaksetaraan

(Solopos, 4 Desember 2017)

Tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas. Ada pergantian dari apa yang dulu kita sebut sebagai Hari Penyandang Cacat. Istilah cacat gampang mengandaikan tubuh manusia seperti barang. Maka istilah yang amat diskriminatif dianggap mendesak untuk diganti. Meskipun demikian, eufemisme bahasa tidak lekas mengangkat kelompok difabel dari posisi inferiornya. Kita masih saja menjumpai ketidakadilan dalam pelbagai narasi tentang difabel.

Selama ini kita masih menyangsikan keterlibatan difabel dalam wacana pembangunanisme. Laju kencang modernitas belum dibarengi pemartabatan bagi difabel. Kelompok difabel masih mendapati dirinya bergelimang pelabelan dan diskriminasi di tengah ruang publik. Kota-kota belum sepenuhnya menjadi cerminan ruang publik yang setara dan inklusif. Sebagai minoritas, narasi difabel masih menjadi warga negara kelas dua dalam pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial, agama maupun budaya.

Di antara isu minoritas lain seperti perempuan, LGBT, dan ras “bukan pribumi”, barangkali difabel adalah minoritas yang paling minim mendapat silang-sengkarut wacana di ruang publik. Setidaknya dapat dilacak dari tidak banyak publikasi menyangkut minoritas difabel yang tampil di surat kabar atau media sosial. Kita menduga, menguatnya islamisme yang kental mewarnai corak masyarakat Indonesia mutakhir, seperti dituturkan Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan (2015), telah turut menyisihkan minoritas difabel dalam wacana arus utama di ruang publik.

Dengan kata lain, wacana difabel terabaikan lantaran tidak bersinggungan langsung dengan perbincangan mengenai Islam dan politik identitas pasca Orde Baru. Misalnya, apabila disandingkan dengan isu-isu minoritas mengenai perempuan atau LGBT yang kerap menjadi perdebatan masif di ruang publik. Argumentasi religiositas dan klaim agama selalu muncul dalam sengat-sengit perdebatan atas isu-isu tersebut. Di sisi lain, dalam Islam—sebagai agama mayoritas—persoalan difabel tidak pernah secara spesifik disebut dan mendapat perhatian serius dalam kajian-kajian. Continue reading “Difabel dan Narasi Ketidaksetaraan”

Berdoa dalam Puisi

(Lampung Post, 12 Maret 2017)

C6wumr6VAAACFPP.jpg large

Barangkali tak ada yang lebih khusyuk dari doa dalam puisi. Kadang sebuah doa menjelma puisi, sebuah puisi menjelma doa. Banyak doa berkelindan dalam puisi-puisi. Sebab seperti halnya puisi, doa adalah perantara. Doa adalah penghubung pendoa dengan Tuhan, orang tua, kekasih, dan orang lain. Doa melipat jarak. Doa kadang dapat kita ibaratkan seperti pak pos yang setia mengantarkan pengharapan, syukur, rindu, bahagia, sendu, bahkan kematian. Kita hidup dalam doa-doa. Demikianlah pula penyair ketika sedang berdoa, menasbihkan semesta lewat puisi-puisinya.

Dan seperti halnya doa, puisi pun adalah medium. Setidaknya itu yang dipercayai oleh penyair Sapardi Djoko Damono dalam prosanya, Hujan Bulan Juni (2015) yang juga merupakan gubahan puisinya. “Puisi itu medium, dan medium itu dukun,” bisik Sawono, tokoh dalam novel tersebut. Kita mudah menduga, pandangan Sapardi mengenai puisi seperti termanifestasi dalam diri tokoh Sarwono –yang juga dikisahkan sebagai seorang penyair.

Sarwono percaya kalau manusia yang sama-sama masih hidup bisa berkomunikasi tanpa harus bertatap muka. Dalam kerinduan yang melelahkan hati, ia percaya puisi adalah doa yang dapat menghubungkan perasaannya dengan kekasihnya, Pingkan. Ia yakin, puisi yang ia tulis akan sampai ke tambatan hatinya. Meski kemudian pembaca akan menyadari puisi yang ditulis oleh Sarwono tersebut layaknya medium, seperti pesan perpisahan. Dalam puisinya “Tiga Sajak Kecil” Sarwono berfirasat, kita tak akan pernah bertemu:/ aku dalam dirimu/ tiadakah pilihan/ kecuali di situ?/ kau terpencil dalam diriku.

Sama halnya Sarwono, Sapardi memang kerap “berdoa” dalam puisi-puisinya. Ia dikenal sebagai Penyair Hujan lantaran koleksi puisinya tentang hujan, seperti: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Di Beranda Waktu Hujan, Percakapan Malam Hujan, Kuhentikan Hujan, dan Sihir Hujan. Bukan hanya Sapardi, banyak penyair mengubah puisi tentang hujan. Momen hujan turun kerap diasosiasikan melahirkan suasana transendental. Kita menyangka, dalam hujan para penyair berdoa lewat puisinya. Continue reading “Berdoa dalam Puisi”