Berdoa dalam Puisi

(Lampung Post, 12 Maret 2017)

C6wumr6VAAACFPP.jpg large

Barangkali tak ada yang lebih khusyuk dari doa dalam puisi. Kadang sebuah doa menjelma puisi, sebuah puisi menjelma doa. Banyak doa berkelindan dalam puisi-puisi. Sebab seperti halnya puisi, doa adalah perantara. Doa adalah penghubung pendoa dengan Tuhan, orang tua, kekasih, dan orang lain. Doa melipat jarak. Doa kadang dapat kita ibaratkan seperti pak pos yang setia mengantarkan pengharapan, syukur, rindu, bahagia, sendu, bahkan kematian. Kita hidup dalam doa-doa. Demikianlah pula penyair ketika sedang berdoa, menasbihkan semesta lewat puisi-puisinya.

Dan seperti halnya doa, puisi pun adalah medium. Setidaknya itu yang dipercayai oleh penyair Sapardi Djoko Damono dalam prosanya, Hujan Bulan Juni (2015) yang juga merupakan gubahan puisinya. “Puisi itu medium, dan medium itu dukun,” bisik Sawono, tokoh dalam novel tersebut. Kita mudah menduga, pandangan Sapardi mengenai puisi seperti termanifestasi dalam diri tokoh Sarwono –yang juga dikisahkan sebagai seorang penyair.

Sarwono percaya kalau manusia yang sama-sama masih hidup bisa berkomunikasi tanpa harus bertatap muka. Dalam kerinduan yang melelahkan hati, ia percaya puisi adalah doa yang dapat menghubungkan perasaannya dengan kekasihnya, Pingkan. Ia yakin, puisi yang ia tulis akan sampai ke tambatan hatinya. Meski kemudian pembaca akan menyadari puisi yang ditulis oleh Sarwono tersebut layaknya medium, seperti pesan perpisahan. Dalam puisinya “Tiga Sajak Kecil” Sarwono berfirasat, kita tak akan pernah bertemu:/ aku dalam dirimu/ tiadakah pilihan/ kecuali di situ?/ kau terpencil dalam diriku.

Sama halnya Sarwono, Sapardi memang kerap “berdoa” dalam puisi-puisinya. Ia dikenal sebagai Penyair Hujan lantaran koleksi puisinya tentang hujan, seperti: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Di Beranda Waktu Hujan, Percakapan Malam Hujan, Kuhentikan Hujan, dan Sihir Hujan. Bukan hanya Sapardi, banyak penyair mengubah puisi tentang hujan. Momen hujan turun kerap diasosiasikan melahirkan suasana transendental. Kita menyangka, dalam hujan para penyair berdoa lewat puisinya. Lanjutkan membaca “Berdoa dalam Puisi”

Hilangnya Martabat Guru

(Koran Sindo, 5 Maret 2017)

17125429_737006783128850_4605515520517603328_n

Tidak banyak kisah nonfiksi maupun fiksi yang mengangkat guru sebagai sosok yang manusiawi. Yakni memperlihatkan guru sebagai manusia biasa yang tidak luput dari pelbagai luapan perasaan sentimentil seperti rasa kecewa, marah, putus asa dan menyesal. Padahal nyatanya kita perlu kisah alternatif, misalnya guru tidak melulu digambarkan sebagai sosok Umar Bakri yang selalu ikhlas dan sabar mengabdi tanpa pamrih. Amat manusiawi apabila seorang guru merasakan banyak ketidakberpihakan yang menimpa dirinya.

Aib dan Martabat yang ditulis oleh Dag Solstad ini adalah sebuah novel yang menarasikan guru secara jujur. Guru bukan orang suci, melainkan juga merasakan pergumulan harga diri maupun nasibnya yang terasa tidak mudah dan melemahkan, hingga memaksa seorang guru jatuh dalam aib. Melalui novel ini kita diajak Dag Solstad untuk mempertanyakan martabat seorang guru di sekolah dan masyarakat.

Novel ini dibuka dengan pengisahan seorang guru berusia 50-an yang cukup sering minum-minum hingga mabuk. Dari membaca paragraf pertama dalam novel ini saja dengan mudah pembaca akan merasa telah dijanjikan sebuah cerita yang suram dan murung. “Hari itu begitu kelabu dan berat, langit kelam, dan awan hitam berarak melintas.” Dia merasa kepalanya agak pusing saat sedang sarapan di meja makan, dan belum menyadari bahwa hari itu bakal menjadi hari yang menentukan dalam hidupnya.

Guru tersebut bernama Elias Rukla. Dia ada di Olso, ibukota Norwegia, dan bekerja sebagai guru pelajaran sastra di sekolah menengah atas, Fargerborg. Setiap hari dia mesti mengadapi murid-muridnya yang tak berminat pada pelajaran sastra. Membaca halaman demi halaman dalam novel tipis ini pembaca akan mencercap perasaan terisolasi dan ketidakbahagiaan hidup, terkesiap dengan setiap jengkal paradoks yang dihadirkan dalam cerita. Lanjutkan membaca “Hilangnya Martabat Guru”

Melacak Rijsttaffel, Kuliner Masa Kolonial

(Harian Bhirawa, 24 Februari 2017)

16790025_389571428071113_7522147052961136640_n

Siapa yang mengira gaya penyajian hidangan prasmanan sebenarnya merupakan warisan buffet style ala Eropa yang menggantikan kebiasaan makan sambil duduk berlesehan di lantai. Atau dalam kebiasaan penggunaan sendok dan garpu sebagai peralatan makan untuk menikmati hidangan nasi. Lalu makanan popular semisal perkedel, bistik, semur, dan sup sejatinya diadopsi dari kuliner Barat. Fadly Rahman dalam bukunya, Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 mengajak kita melacak rijsttafel sebagai babakan penting sejarah masuknya pengaruh asing dalam kuliner Indonesia.

Rijsttafel  dikenal sebagai persentuhan budaya kuliner Pribumi dengan Belanda. Rijsttafel merupakan istilah khusus untuk sajian makan nasi eksklusif di kalangan orang Belanda yang kemudian berkembang dan popular. Jika diartikan secara harfiah, rijst berarti nasi dan tafel berarti meja, disatukan menjadi “hidangan nasi” (h.2). Rijsttafel terdiri atas beberapa bagian, hidangan utama (hoofdschotel) yaitu nasi, hidangan tambahan (bijgerechten) terdiri dari sayur, daging, telur, sambal, acar, sup, bakmi. Dan hidangan pencuci mulut (nagerechten) yang biasanya ada buah, kue, dan es dari lemak susu (roomijs).

Jejak-jejak rijsttafel setidaknya banyak terdapat dalam sumber-sumber kolonial pada rentang tahun 1870 hingga 1942. Cerita seputar rijsttafel banyak terselip di dalam sumber-sumber tertulis masa kolonial Belanda seperti buku-buku masak, majalah rumah tangga, foto-foto, hingga karya-karya sastra. Sumber-sumber itu mampu membangun dan menampilkan imaji tentang hidangan nasi yang dipadu-padankan dengan penyajian bergaya Eropa. Menurut Fadly, itulah yang sebenarnya menjadi inti buku ini.

Kemunculan rijsttafel awalnya dimulai dari adanya larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) atau mendatangkan perempuan Eropa ke Hindia di masa itu. Hal tersebut memunculkan terjadinya percampuran darah dengan kaum perempuan Pribumi yang menghasilkan gaya hidup campuran, termasuk dalam urusan makan. Sementara dalam kehidupan rumah tangga para pejabat tinggi Belanda, kebiasaan memercayakan urusan dapur kepada para juru masak Pribumi, telah memengaruhi pola makan serta hidangan yang mereka konsumsi sehari-hari (h.36). Lanjutkan membaca “Melacak Rijsttaffel, Kuliner Masa Kolonial”

Menguak Kisah Pedalang Perempuan Penderita Demensia

(Koran Jakarta, 21 Februari 2017)

16583670_645713932279049_3165756952919670784_n

Prosa berlatar belakang Tragedi 1965 di Bali yang ditulis oleh Ni Made Purnama Sari, Kalamata, ini mencoba menghadirkan dampak masa kelam. Sebuah kisah tentang luluh lantaknya kehidupan tokoh figuratif bernama Ni Rumyig. Pembaca diajak mengikuti kisah Ni Rumyig, menelusuri masa lalunya, hingga hanyut berempati terhadap kehidupan seorang yang terpasung dalam ingatan traumatisnya.

Dikisahkan bahwa tokoh Aku, adalah seorang penulis perempuan berusia 25 tahun, diminta untuk menulis biografi hidup, Ni Rumyig. Sebuah pekerjaan ganjil ketika mesti menulis tentang perempuan yang menyandang demensia. Ni Rumyig tak mengingat apapun tentang dirinya, termasuk masa lalunya, kenangan terindahnya hingga siapapun di sekitarnya (hal.16). Demensia adalah sindrom neuro-degeneratif. Seorang yang mengalami demensia akan kesulitan untuk membedakan antara masa kini dan masa lalu. Seperti Alzheimer, mereka menderita kerancuan antara kenyataan dan rekaan.

Pembaca diantar untuk memahami bagaimana seorang penderita demensia. Ni Rumyig adalah seorang perempuan tua berusia enam puluh tiga tahun. Ia cenderung tidak mau berbicara dengan siapapun, melukai diri sendiri, terlihat cemas, dan seperti dicekam ketakutan. Hidupnya tak terlepas dari obat-obatan yang sebenarnya tak cukup berguna.

Masa lalu bagi Ni Rumyig ibarat karat yang meruntuhkan diri dan batinnya perlahan-lahan. Dalam demensianya, dia menjadi seseorang yang menyisih dari kehidupan sekarang, menyimpan rahasia di tepian ingatannya. Bilamana ditanya soal dirinya, kisah masa lalunya, kenangan dan ingatan, Ni Rumyig persis seperti pintu yang rapat terkunci dan aku tidak akan pernah tahu kapankah pintu itu akan terbuka kembali (hal.49). Lanjutkan membaca “Menguak Kisah Pedalang Perempuan Penderita Demensia”

Arie Smit, Maestro Pemburu Cahaya

(Koran Tempo, 11 Februari 2017)

16584983_318608705203239_5605783210135912448_n

Pada 8 Juni 1938 kapal Baloeran mengarungi lautan menuju Hindia Belanda. Perjalanan memakai Mail en Passagiersdienst Rotterdamsche Lloyd itu mengantarkan Arie bersama rombongan tentara Belanda dari pelabuhan Rotterdam menuju Tanjung Priok, Batavia. Usia Arie masih 22 tahun, dan ia sebenarnya tidak menyukai senjata. Barangkali, Arie pada saat itu tidak pernah mengira, takdir yang sempat ia tolak tersebut akan menjadi titik balik dalam biduk hidupnya.

Buku Arie Smit: Hikayat Luar Biasa Tentara Penembak Cahaya garapan Agus Dermawan T ini mengisahkan biografi hidup Arie Smit, seorang maestro lukis kelahiran Belanda dengan nama lengkap Adrianus Wilhelmus Smit. Selama 78 tahun, ia memilih Indonesia sebagai rumah, dan Bali sebagai tambatan hatinya yang tercermin dalam keseluruhan karya-karyanya. Seperti dikatakan Agus Darmawat T, sebagian orang menyebut Arie Smit sebagai pelukis Belanda yang tinggal di Bali. Tapi, Arie Smit selalu menyangkal sebutan itu. Ia minta dicatat sebagai pelukis Bali yang tinggal di Indonesia, atau malah seniman Indonesia yang lahir di Belanda (hlm.1).

Arie Smit, kelahiran Zaandam, Belanda, 1916. Pernah menjadi mahasiswa desain grafis di Academy of Arts di Rotterdam. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1938 untuk mengikuti program wajib militer. Bertugas sebagai tentara sama sekali bukan keinginannya. Ia benci kekerasan. Lantaran itu Arie merasa berbahagia, ia ditugaskan sebagai lithographer untuk tentara Belanda di Topografische Dienst atau Jawatan Topografi di Batavia.

Arie pernah ditangkap oleh pemerintah Jepang pada tahun 1942 dan mesti menjalani kerja paksa di Singapura, Thailand, dan Myanmar. Jembatan Sungai Kwai menjadi rekam episode masa sulit Arie saat menjadi pekerja romusa. Ia baru dibebaskan pada 1945 ketika Jepang kalah perang. Pasca pengakuan kemerdekaan Indonesia tahun 1949, Arie memilih tinggal dengan mencopot seragam tentaranya, dan pada 1951 mengubah kewarganegaraannya. Selepas itu ia mengajar Seni Grafis dan Litografi di Seni Rupa Institute Teknologi Bandung. Lanjutkan membaca “Arie Smit, Maestro Pemburu Cahaya”