Karikatural dalam Cerita Pendek Eka Kurniawan

(Harian Nasional, 8 Oktober 2016)

corat-coret-di-toilet-2016

Eka Kurniawan saat ini dipandang sebagai salah satu penulis terbaik Indonesia. Novelnya Cantik Itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004) sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan mendapat beragam penghargaan. Sebelum menulis novel, Eka menulis cerita-cerita pendek. Kumpulan cerita pendek Corat-coret di Toilet merupakan karya-karya awal Eka Kurniawan sebagai penulis.

Dalam buku ini ada sehimpun 12 cerita pendek yang Eka Kurniawan tulis selama tahun 1999-2000. Cerita pendek pertama berjudul Peter Pan yang mengingatkan pada nama tokoh fiksi ciptaan novelis Skotlandia J.M. Barrie. Peter Pan, demikian nama tokoh dalam cerita pendek tersebut, dikisahkan sebagai seorang pencuri buku yang merasa tidak begitu bahagia karena kehidupan menurutnya menyebalkan.

Ia mencuri buku-buku dari perpustakaan, toko-toko buku maupun dari loakan. Ia melakukannya dengan harapan bisa ditangkap sehingga ia akan tahu bahwa pemerintah memang mencintai buku dan benci para pencuri buku. Tapi dasar ia memang malang, ia tak juga ditangkap meskipun sudah ribuan buku ia curi (hlm. 2).

Peter Pan nyatanya seorang mahasiswa sekaligus penyair yang membenci rezim presiden diktator. Ia dipanggil Peter Pan lantaran bertahun-tahun tak juga lulus kuliah. Peter Pan memiliki kekasih bernama Tuan Puteri. Ia bersama kekasihnya itu, dan kawan-kawannya, tak hanya berdemonstrasi, tetapi juga melakukan perang gerilya. Peter Pan menjual tiga ribu buku-bukunya untuk modal mencetak selebaran dan poster-poster perjuangan. Continue reading “Karikatural dalam Cerita Pendek Eka Kurniawan”

Menikmati Potongan-potongan Cerita Senja

(Koran Jakarta, 10 Juni 2016)

p_20160827_0700581

 

Alina tercinta, bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Demikian cara cerpenis kenamaan Indonesia Seno Gumirah Ajidarma menyihir pembaca ketika memulai cerita pendeknya dalam Sepotong Senja Untuk Pacarku. Melalui gaya penulisan semacam surat yang begitu romantis, cerita pendek yang ia tulis pada tahun 1991 itu mengisahkan senja dengan eksotis, sekaligus penuh kiasan dan makna.

Cerita berlatar di zaman ketika berkirim dan berbalas surat masih menjadi tradisi antar kekasih. Dan sesuai judulnya, diceritakan Sukab sengaja mengirimkan sepotong senja yang dia masukan ke dalam amplop untuk pacarnya, Alina. Sukab ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata, “Dunia sudah sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi.” (hal. 5).

Dalam cerpen tersebut, senja dibikin oleh Seno bukan sekadar panorama keindahan langit sore, tetapi telah menjadi sebuah ungkapan kasih sayang. Dengan gaya surealis Seno menulis, “Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kurekatkan pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.”

Sukab telah mencuri senja. Ia pergi meninggalkan cakrawala berlubang sebesar kartu pos, dikejar banyak orang, dan menjadi buronan polisi. Semua demi sepotong senja untuk Alina.
Continue reading “Menikmati Potongan-potongan Cerita Senja”