Hilangnya Martabat Guru

(Koran Sindo, 5 Maret 2017)

17125429_737006783128850_4605515520517603328_n

Tidak banyak kisah nonfiksi maupun fiksi yang mengangkat guru sebagai sosok yang manusiawi. Yakni memperlihatkan guru sebagai manusia biasa yang tidak luput dari pelbagai luapan perasaan sentimentil seperti rasa kecewa, marah, putus asa dan menyesal. Padahal nyatanya kita perlu kisah alternatif, misalnya guru tidak melulu digambarkan sebagai sosok Umar Bakri yang selalu ikhlas dan sabar mengabdi tanpa pamrih. Amat manusiawi apabila seorang guru merasakan banyak ketidakberpihakan yang menimpa dirinya.

Aib dan Martabat yang ditulis oleh Dag Solstad ini adalah sebuah novel yang menarasikan guru secara jujur. Guru bukan orang suci, melainkan juga merasakan pergumulan harga diri maupun nasibnya yang terasa tidak mudah dan melemahkan, hingga memaksa seorang guru jatuh dalam aib. Melalui novel ini kita diajak Dag Solstad untuk mempertanyakan martabat seorang guru di sekolah dan masyarakat.

Novel ini dibuka dengan pengisahan seorang guru berusia 50-an yang cukup sering minum-minum hingga mabuk. Dari membaca paragraf pertama dalam novel ini saja dengan mudah pembaca akan merasa telah dijanjikan sebuah cerita yang suram dan murung. “Hari itu begitu kelabu dan berat, langit kelam, dan awan hitam berarak melintas.” Dia merasa kepalanya agak pusing saat sedang sarapan di meja makan, dan belum menyadari bahwa hari itu bakal menjadi hari yang menentukan dalam hidupnya.

Guru tersebut bernama Elias Rukla. Dia ada di Olso, ibukota Norwegia, dan bekerja sebagai guru pelajaran sastra di sekolah menengah atas, Fargerborg. Setiap hari dia mesti mengadapi murid-muridnya yang tak berminat pada pelajaran sastra. Membaca halaman demi halaman dalam novel tipis ini pembaca akan mencercap perasaan terisolasi dan ketidakbahagiaan hidup, terkesiap dengan setiap jengkal paradoks yang dihadirkan dalam cerita. Lanjutkan membaca “Hilangnya Martabat Guru”

Melacak Rijsttaffel, Kuliner Masa Kolonial

(Harian Bhirawa, 24 Februari 2017)

16790025_389571428071113_7522147052961136640_n

Siapa yang mengira gaya penyajian hidangan prasmanan sebenarnya merupakan warisan buffet style ala Eropa yang menggantikan kebiasaan makan sambil duduk berlesehan di lantai. Atau dalam kebiasaan penggunaan sendok dan garpu sebagai peralatan makan untuk menikmati hidangan nasi. Lalu makanan popular semisal perkedel, bistik, semur, dan sup sejatinya diadopsi dari kuliner Barat. Fadly Rahman dalam bukunya, Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 mengajak kita melacak rijsttafel sebagai babakan penting sejarah masuknya pengaruh asing dalam kuliner Indonesia.

Rijsttafel  dikenal sebagai persentuhan budaya kuliner Pribumi dengan Belanda. Rijsttafel merupakan istilah khusus untuk sajian makan nasi eksklusif di kalangan orang Belanda yang kemudian berkembang dan popular. Jika diartikan secara harfiah, rijst berarti nasi dan tafel berarti meja, disatukan menjadi “hidangan nasi” (h.2). Rijsttafel terdiri atas beberapa bagian, hidangan utama (hoofdschotel) yaitu nasi, hidangan tambahan (bijgerechten) terdiri dari sayur, daging, telur, sambal, acar, sup, bakmi. Dan hidangan pencuci mulut (nagerechten) yang biasanya ada buah, kue, dan es dari lemak susu (roomijs).

Jejak-jejak rijsttafel setidaknya banyak terdapat dalam sumber-sumber kolonial pada rentang tahun 1870 hingga 1942. Cerita seputar rijsttafel banyak terselip di dalam sumber-sumber tertulis masa kolonial Belanda seperti buku-buku masak, majalah rumah tangga, foto-foto, hingga karya-karya sastra. Sumber-sumber itu mampu membangun dan menampilkan imaji tentang hidangan nasi yang dipadu-padankan dengan penyajian bergaya Eropa. Menurut Fadly, itulah yang sebenarnya menjadi inti buku ini.

Kemunculan rijsttafel awalnya dimulai dari adanya larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) atau mendatangkan perempuan Eropa ke Hindia di masa itu. Hal tersebut memunculkan terjadinya percampuran darah dengan kaum perempuan Pribumi yang menghasilkan gaya hidup campuran, termasuk dalam urusan makan. Sementara dalam kehidupan rumah tangga para pejabat tinggi Belanda, kebiasaan memercayakan urusan dapur kepada para juru masak Pribumi, telah memengaruhi pola makan serta hidangan yang mereka konsumsi sehari-hari (h.36). Lanjutkan membaca “Melacak Rijsttaffel, Kuliner Masa Kolonial”

Menguak Kisah Pedalang Perempuan Penderita Demensia

(Koran Jakarta, 21 Februari 2017)

16583670_645713932279049_3165756952919670784_n

Prosa berlatar belakang Tragedi 1965 di Bali yang ditulis oleh Ni Made Purnama Sari, Kalamata, ini mencoba menghadirkan dampak masa kelam. Sebuah kisah tentang luluh lantaknya kehidupan tokoh figuratif bernama Ni Rumyig. Pembaca diajak mengikuti kisah Ni Rumyig, menelusuri masa lalunya, hingga hanyut berempati terhadap kehidupan seorang yang terpasung dalam ingatan traumatisnya.

Dikisahkan bahwa tokoh Aku, adalah seorang penulis perempuan berusia 25 tahun, diminta untuk menulis biografi hidup, Ni Rumyig. Sebuah pekerjaan ganjil ketika mesti menulis tentang perempuan yang menyandang demensia. Ni Rumyig tak mengingat apapun tentang dirinya, termasuk masa lalunya, kenangan terindahnya hingga siapapun di sekitarnya (hal.16). Demensia adalah sindrom neuro-degeneratif. Seorang yang mengalami demensia akan kesulitan untuk membedakan antara masa kini dan masa lalu. Seperti Alzheimer, mereka menderita kerancuan antara kenyataan dan rekaan.

Pembaca diantar untuk memahami bagaimana seorang penderita demensia. Ni Rumyig adalah seorang perempuan tua berusia enam puluh tiga tahun. Ia cenderung tidak mau berbicara dengan siapapun, melukai diri sendiri, terlihat cemas, dan seperti dicekam ketakutan. Hidupnya tak terlepas dari obat-obatan yang sebenarnya tak cukup berguna.

Masa lalu bagi Ni Rumyig ibarat karat yang meruntuhkan diri dan batinnya perlahan-lahan. Dalam demensianya, dia menjadi seseorang yang menyisih dari kehidupan sekarang, menyimpan rahasia di tepian ingatannya. Bilamana ditanya soal dirinya, kisah masa lalunya, kenangan dan ingatan, Ni Rumyig persis seperti pintu yang rapat terkunci dan aku tidak akan pernah tahu kapankah pintu itu akan terbuka kembali (hal.49). Lanjutkan membaca “Menguak Kisah Pedalang Perempuan Penderita Demensia”

Arie Smit, Maestro Pemburu Cahaya

(Koran Tempo, 11 Februari 2017)

16584983_318608705203239_5605783210135912448_n

Pada 8 Juni 1938 kapal Baloeran mengarungi lautan menuju Hindia Belanda. Perjalanan memakai Mail en Passagiersdienst Rotterdamsche Lloyd itu mengantarkan Arie bersama rombongan tentara Belanda dari pelabuhan Rotterdam menuju Tanjung Priok, Batavia. Usia Arie masih 22 tahun, dan ia sebenarnya tidak menyukai senjata. Barangkali, Arie pada saat itu tidak pernah mengira, takdir yang sempat ia tolak tersebut akan menjadi titik balik dalam biduk hidupnya.

Buku Arie Smit: Hikayat Luar Biasa Tentara Penembak Cahaya garapan Agus Dermawan T ini mengisahkan biografi hidup Arie Smit, seorang maestro lukis kelahiran Belanda dengan nama lengkap Adrianus Wilhelmus Smit. Selama 78 tahun, ia memilih Indonesia sebagai rumah, dan Bali sebagai tambatan hatinya yang tercermin dalam keseluruhan karya-karyanya. Seperti dikatakan Agus Darmawat T, sebagian orang menyebut Arie Smit sebagai pelukis Belanda yang tinggal di Bali. Tapi, Arie Smit selalu menyangkal sebutan itu. Ia minta dicatat sebagai pelukis Bali yang tinggal di Indonesia, atau malah seniman Indonesia yang lahir di Belanda (hlm.1).

Arie Smit, kelahiran Zaandam, Belanda, 1916. Pernah menjadi mahasiswa desain grafis di Academy of Arts di Rotterdam. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1938 untuk mengikuti program wajib militer. Bertugas sebagai tentara sama sekali bukan keinginannya. Ia benci kekerasan. Lantaran itu Arie merasa berbahagia, ia ditugaskan sebagai lithographer untuk tentara Belanda di Topografische Dienst atau Jawatan Topografi di Batavia.

Arie pernah ditangkap oleh pemerintah Jepang pada tahun 1942 dan mesti menjalani kerja paksa di Singapura, Thailand, dan Myanmar. Jembatan Sungai Kwai menjadi rekam episode masa sulit Arie saat menjadi pekerja romusa. Ia baru dibebaskan pada 1945 ketika Jepang kalah perang. Pasca pengakuan kemerdekaan Indonesia tahun 1949, Arie memilih tinggal dengan mencopot seragam tentaranya, dan pada 1951 mengubah kewarganegaraannya. Selepas itu ia mengajar Seni Grafis dan Litografi di Seni Rupa Institute Teknologi Bandung. Lanjutkan membaca “Arie Smit, Maestro Pemburu Cahaya”

Menelusuri Penjelajahan China Menemukan Dunia

(Harian Bhirawa, 23 Desember 2016)

15538270_1162038487225045_3655104915077857280_n

Bermula dari keisengan Gavin Menzies menggumuli peta-peta kuno, secara kebetulan saat berkunjung ke Perpustakaan James Ford Bell di Universitas Minnesota, Amerika Serikat, menemukan sebuah peta bertuliskan tahun 1424 dan ditandatangani oleh seorang pembuat peta dari Venesia bernama Zuane Pizzigano. Peta tersebut memperlihatkan beberapa pulau yang setelah ia telisik merupakan pulau-pulau di kepulauan Karibia, Puerto Rico dan Guedepole. Hal itu mengejutkannya karena berarti seseorang telah menjelajah kepulauan tersebut sebelum Columbus singgah di Karibia. Tetapi siapakah yang telah melakukan penjelajahan sebelum Columbus?

China telah berlayar ke Amerika sekitar tujuh puluh tahun sebelum Columbus. Demikianlah sebuah klaim yang bukan saja mengundang kontroversi, tetapi tentu menjengkelkan para sejarawan dan akademisi. Bukan hanya Amerika, tetapi pada abad ke XV, tepatnya dalam rentang tahun 1421-1423, yang artinya jauh sebelum orang-orang Eropa, armada laut China telah berlayar selama dua tahun mengelilingi pantai Afrika, Australia, Selandia Baru dan Antartika. Bahkan, ketika Columbus dan para tokoh penjelajah Eropa lain datang ke dunia baru tersebut, dikatakan hanya mengekor jalur pelayaran berdasarkan salinan peta China.

Semua itu diutarakan Gavin Menzies lewat bukunya, 1421: Saat China Menemukan Dunia. Dalam pandangan Menzies, luputnya catatan sejarah mengenai penjelajahan China disebabkan pada pertengahan abad ke XV hampir semua peta dan dokumentasi China pada saat itu dengan sengaja dimusnahkan oleh pengadilan China karena perubahan politik luar negeri yang terjadi tiba-tiba. Jauh dari mengarungi dunia luar, setelah momen tersebut China berkonsentrasi dengan dirinya. Segala sesuatu untuk mengenang para penjelajah China terdahulu telah terlupakan dalam sejarah (hlm. 7).

Pada tahun 1421, China dipimpin seorang kaisar bernama Zhu Di. Ia adalah seorang megalomaniak yang ingin menjadikan China sebagai, “Kerajaan maritim, yang merentang samudra” (hlm. 22). Zhu Di memilih Zheng He atau yang dikenal sebagai Cheng Ho sebagai kepala komandan armada laut China. Untuk mewujudkan ambisinya, Zhu Di menyiapkan ribuan kapal baru. Ketika itu, nyaris dalam setiap hal, kapal-kapal China berada satu abad di depan Eropa. Lanjutkan membaca “Menelusuri Penjelajahan China Menemukan Dunia”