Dot

(Pikiran Rakyat, 11 Desember 2016)

14562021_1598197113822439_5379230162082594816_n

Pada suatu hari pemuda A sedang gelisah menghadapi pertanyaan ibunya. Ia adalah seorang mahasiswa yang baru kali pertama akan menerima hasil nilai kuliahnya atau biasa disebut indeks prestasi (IP). “Berapa nilai IP kamu?” Tanya si ibu. “Belum tahu, saya belum cek di internet bu,” jawab pemuda A berkelit. “lho kenapa belum? Sini kasih tahu ibu alamat situsnya,” sambil memegang telepon genggamnya. Tanpa dapat mengelak, pemuda A menyebutkan sebuah alamat persis begini: siakad dot co dot id (ai-di). “lho kok dot?” Tanya si ibu yang kebetulan habis membuatkan susu untuk adik bayi pemuda A.

Nah, itu semua apa sebenarnya? Cerita ringkas tersebut menyiratkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dalam sebuah percakapan yang disebabkan oleh sebuah kata, yakni dot. Ada persoalan kebahasaan yang menarik. Tentu saja dot yang dimaksudkan oleh pemuda A adalah tanda titik (.) untuk menyebutkan sebuah laman: siakad.co.id. Seperti pembaca yang budiman telah ketahui, dot tersebut acap diujarkan bersama dengan id, com, org, dan seterusnya.

Coba kita ingat saat seorang kawan menyodorkan alamat surelnya. Atau perhatikan ketika seorang hendak memperkenalkan laman atau blog pribadi mereka di internet. Mereka tanpa sadar telah kerepotan –atau karena latah bahasa saja— untuk berbahasa Indonesia dengan tepat sehingga memakai kata dot di dalam alamat surel atau situs mereka seperti dot com, dot co, dot id. Dan seturut itu, id (yang merujuk sebagai laman Indonesia) sering kali diucapkan “dot-ai-di”. Seolah-olah diucapkan oleh lidah seorang pengujar bahasa Inggris, dan bukan dengan “dot-i-de” seperti sepantasnya. Continue reading “Dot”

Iklan

Luka Psikologis di Balik Keluguan

(Koran Pantura, 13 Oktober 2016)

di-tanah-lada-2015

Gadis kecil itu bernama Salva, atau Ava nama panggilannya. Ava adalah bocah berusia enam tahun, tetapi ia anak yang cerdas dan senang sekali membaca kamus. Kakek Kia, memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava membaca kamus bahasa Indonesia kesayangannya tersebut ketika menemui istilah-istilah yang tidak dipahami oleh anak seusianya.

Malangnya gadis kecil itu memiliki Papa yang pemarah dan membencinya. Ava selalu takut dengan Papanya, Papa mirip monster atau raksasa yang ada di buku cerita dan film kartun; besar, gendut, dan berwajah marah (hlm. 2). Ziggy dalam novel ini memang menggunakan imajinasi dan logika anak dalam gaya bertutur. Pembaca akan disuguhi keluguan bocah dengan cara berpikir serta gaya bicara yang polos, baku dan mirip kamus.

Ava tinggal dalam keluarga yang hampir setiap saat orang tuanya bertengkar. Mengambil sudut pandang anak-anak, bukan berarti menyajikan kisah yang “kekanak-kanakan”. Ziggy sepertinya sengaja agar pembaca dapat menyelami sisi psikologis anak-anak untuk membangun konflik penceritaan. Mencoba memantik kesadaran bahwa anak-anak kerap menjadi korban atas kekerasan, pertengkaran, dan kesalahan orang dewasa, yakni para orang tua. Dan betapa riskannya kemungkinan dampak psikologis yang harus dialami anak-anak.

Cerita dalam novel ini bermula ketika Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah kakek Kia meninggal. Di sanalah Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Ternyata P pun memiliki kisah yang sama dengan Ava. Bocah sepuluh tahun yang tidak tahu siapa ibunya sejak lahir dan Papa yang suka menyiksanya. Kesamaan nasib membuat keduanya kemudian berkawan dan menghadapi kepelikan keluarga masing-masing dengan logika dan cara anak-anak. Continue reading “Luka Psikologis di Balik Keluguan”

Broken Home

(Pikiran Rakyat, 27 Maret 2016)

fb_img_147835194208168851

Maraknya kasus nikah-cerai dikalangan artis maupun khalayak ramai membuat istilah “broken home” menjadi sedemikan populer. Alih-alih menggunakan padanan kata dalam bahasa Indonesia seperti keluarga berantakan atau keluarga retak, istilah broken home ini lebih semarak dipakai oleh penutur bahasa kita.

Kecenderungan memakai istilah bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari nyatanya sudah sedemikian akut. Seperti lotion sangat akrab di telinga ketimbang calir atau cairan alir. Atau download untuk mengungkapkan unduh. Juga contact person lebih lazim dipakai, dan bukan narahubung.

Sebenarnya banyak kosa kata bahasa Inggris yang sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Tetapi orang-orang justru merasa tidak akrab dengan padanan kata dalam bahasa Indonesia tersebut. Boleh jadi, ada anggapan bahwa menggunakan bahasa Inggris terasa lebih mentereng. Kesan ini sangat nampak dalam iklan, spanduk, maupun pesan berantai dalam media sosial yang latah memakai istilah bahasa Inggris.

Padahal tugas semua pihak untuk membumikan bahasa Indonesia dalam setiap percakapan dan pelbagai kesempatan. Upaya untuk menyebarkan bahasa Indonesia dalam bahasa lisan dan tulisan. Mestinya kita tak perlu merasa risi mengungkapkan setiap hal dengan bahasa kita. Seperti lema keluarga berantakan sekiranya bisa digunakan untuk broken home.

Menariknya, karena kita memiliki kata majemuk rumah tangga yang juga dipakai untuk menjelaskan keluarga, kita acap kali menemukan, “keretakan rumah tangga” dan “rumah tangga retak”. Mengutip pewartaan sebuah gosip pesohor, “Mulan dicaci sebagai penyebab ‘keretakan rumah tangga’ Ahmad Dhani dengan Maya, mantan istrinya.” Continue reading “Broken Home”