Kesaksian Puisi, Trompet, dan Waktu

(Lampung Post, 11 Februari 2018)

Trompet dibunyikan, di langit nyala kembang api dan letupan petasan. Di setiap malam pergantian tahun, perayaan selalu menjadi agenda wajib bagi khalayak ramai. Kota-kota merasa perlu menyambut datangnya tahun baru dengan segenap kemeriahan. Orang-orang berbondong mengejar keramaian sekaligus kebisingan. Ragam tradisi, meluap bersama demi suka cita tahun baru. Di penjuru kota, orang-orang tidak ingin melewatkan kesaksian detik-detik pergantian tahun.

Tak ada tahun baru tanpa puisi. Para penyair melalui puisi-puisinya pun tidak luput untuk mencatat kesaksiannya. Di malam pergantian tahun, sebuah puisi dapat menjadi penting. Seakan mengingkari bising, para penyair tidak ingin kehilangan pemaknaan dan hening. Kata-kata juga dapat berkelebat di malam tahun baru. Puisi seakan dihadirkan tidak lain untuk mengusik diri para pembaca. Sebutlah, penyair Joko Pinurbo, yang merasa berkepentingan memantik puisi tentang tahun baru dalam himpunan puisinya yang bertajuk Baju Bulan (2013).

Kita mengenal Joko Pinurbo sebagai penyair yang puisi-puisinya dapat memberikan penafsiran baru terhadap waktu-waktu yang selama ini dikultulkan oleh para pemeluk agamanya. Dalam suatu wawancara Joko Pinurbo mengaku dirinya kerap membaca Injil dan menemukan “ada cara penghayatan iman yang dapat diperkaya.” Sebut saja puisi “Baju Bulan”, berbicara mengenai kritik terhadap keglamoran lebaran. Dan puisi “Celana Ibu” yang menafsir ulang religiousitas perayaan paskah. Dari luar puisi itu tampak seperti bercanda, namun sebenarnya sebentuk refleksi kritis mengenai iman, yakni melihat tuhan dari sisi keibuan.

Di dalam buku kumpulan puisinya itu, Joko pinurbo tak luput pula menaruh sejumlah sajak perihal tahun baru. Jokpin tampak memandang bagaimana laku kita di setiap momen pergantian tahun baru sebagai cara kita menafsir waktu. Misalnya saja dalam puisi “Terompet Tahun Baru” (2006). Di awal bait, Joko Pinurbo berkisah: Aku dan ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota/ untuk meramaikan malam tahun baru/ Ayah pilih menyepi di rumah saja/sebab beliau harus menemani kalender/ pada saat-saat terakhir. Continue reading “Kesaksian Puisi, Trompet, dan Waktu”

Iklan

Sejarah Semesta Hawking

(Koran Tempo, edisi 27-28 Januari 2018)

Ilmuwan Bertrand Russel suatu kali memberi kuliah umum mengenai astronomi. Ia menjelaskan bagaimana bumi mengorbit matahari, dan bagaimana matahari pada saat yang sama mengorbit galaksi kita. Seorang nyonya tua kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang kau ceritakan kepada kami adalah sampah. Dunia sesungguhnya sebuah piring datar di atas punggung seekor kura-kura raksasa.” Russel tersenyum sebelum dengan enteng menjawab, “Di atas apakah kura-kura itu berdiri?” Si nyonya menjawab, “Ada kura-kura, banyak kura-kura, terus sampai ke bawah!”

Demikianlah paragraf pembuka dalam buku yang ditulis Stephen Hawking, A Brief History of Time. Hawking menulis bukunya itu pada 1988, dan anekdot tersebut terasa masih relevan kala dibacakan kembali sekarang. Betapapun sains membuat cara kita memahami alam semesta terus maju, pertanyaan mendasar apakah bumi bulat atau datar nyatanya masih menjadi perdebatan sengit di ruang publik maupun media sosial. Tidak sedikit yang percaya dan berkeras membuktikan bahwa bumi benar-benar datar. Maka, dapat kita bayangkan betapa tertinggalnya kita.

Seperti sebuah paradoks, Hawking mengaku menulis A Brief History of Time demi mengenalkan sains kepada masyarakat awam. Lewat buku tersebut, dia ingin menyampaikan gambaran mengenai kemajuan manusia menuju pemahaman lengkap atas hukum-hukum yang mengatur alam semesta, dari Dentuman Besar hingga keberadaan Lubang Hitam. Hawking yakin hampir semua orang tertarik pada cara kerja alam semesta, tapi kebanyakan tidak bisa mengikuti persamaan-persamaan alam semesta. Hawking sendiri merasa kurang peduli akan persamaan itu, dan berharap bukunya dapat menjelaskan sains dengan cara yang lebih sederhana, menyenangkan, dan gampang dimengerti.

Pengakuan tersebut dapat kita jumpai dalam buku ini, Sejarah Singkat Saya. Hawking mengawali bukunya dengan pernyataan bahwa dirinya lahir tepat 300 tahun sesudah kematian Galileo. Tentu saja Hawking melakukannya semata untuk memikat pembaca. Hawking memperkirakan ada sekitar 200 ribu bayi lahir pada 8 Januari 1942, tapi, “Saya tidak tahu apakah ada satu di antara mereka yang kemudian tertarik pada astronomi.” Continue reading “Sejarah Semesta Hawking”

Toko Buku, Kota dan Makna

(Koran Tempo, 23 Desember 2017)

Kita senantiasa menjumpai novel-novel yang berkisah tentang buku. Dari The Savage Detectives karya Roberto Bolano, Un viejo que leia historias de amor (Luis Sepulveda), hingga La casa de papel (Carlos Maria Dominguez). Bagi pencinta buku, novel-novel tentang buku sangat menggoda. Pencinta buku lekas kepincut oleh novel yang menghadirkan buku sebagai latar, dengan tebaran kutipan buku-buku karangan penulis terkenal, dan bertokohkan seorang pembaca buku.

Agaknya hal itu pula yang menjadi strategi Gabrielle Zevin saat menggarap novel The Storied Life of A.J. Fikry. Dalam novel ini, kita akan menjumpai cara lain Zevin memikat pembaca melalui penyebutan buku dan nama pengarang dunia, seperti A Farewell to Arms (Ernest Hemingway), A Perfect Day for Bananafish (J.D. Salinger), dan The Great Gatsby (Scott Fitzgerald). Meski Zevin mengakui bahwa gagasan menulis novel ini muncul dalam sebuah perjalanan bersama Mark Gates-seorang wiraniaga untuk penerbit ternama Farrar Straus Giroux-dalam suatu tur bukunya.

Novel tersebut berkisah tentang A.J. Fikry, pemilik toko buku independen di Pulau Alice, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia tinggal di apartemen di atas toko bukunya. Depresi lantaran istrinya meninggal, Fikry menjadi penyendiri, menjauh dari orang-orang, dan gampang tersinggung dalam perkara buku. Lewat Fikry, Zevin menyodori kita tokoh seorang pembaca buku yang sinis, dengan cara pandang kuno, dan angkuh terhadap sejumlah buku: “Aku muak terhadap novel-novel karya bintang televisi realitas yang ditulis penulis bayangan, buku foto selebriti, memoar olahraga, edisi dengan sampul poster film, barang-barang koleksi, dan-kurasa ini tidak perlu dikatakan lagi-vampir.”

Meski seorang penjual buku, Fikry digambarkan sebagai pembaca yang amat kritis dalam memilih buku-buku untuk dijual. Bukannya menyediakan buku sesuai dengan selera pembeli, ia hanya menjual buku yang diminatinya. Akibatnya, toko itu kekurangan pembeli; penjualan semakin merosot; dan puncaknya saat buku langka dan mahal, yakni kumpulan puisi Edgar Allan Poe, Tamerlane, miliknya dicuri. Continue reading “Toko Buku, Kota dan Makna”

Ber(t)obat dengan Buku

(Koran Sindo, 17 Desember 2017)

Kita dapat menjumpai berbagai alasan seseorang membaca buku. Episode berbuku mungkin ditemukan dalam waktu senggang, mengusir kebosanan, dan penghiburan. Sepanjang itu pula narasi tentang buku kerap dikaitkan dengan laku intelektual maupun sebagai cerminan budaya kelas menengah di kota. Tetapi tidak demikian bagi Perdu, tokoh dalam buku Nina George ini. Dalam buku Toko Buku Kecil di Paris, kita akan diajak menjumpai kisah tidak biasa mengenai buku.

Buku ini berkisah tentang Monsieur Jean Perdu, pemilik sebuah toko buku apung Literacy Apothecary di Sungai Seine, Paris. Toko buku “Apotek Kesusastraan” Jean Perdu demikian istimewa karena di sana dia menentukan buku bagi pengunjungnya, memilihkan buku yang benar-benar mereka butuhkan untuk diri mereka. Seakan-akan Perdu dapat masuk ke dalam jiwa para pembeli bukunya. Perdu mengaku dapat memilihkan buku lebih baik ketimbang para pembelinya memilih buku sendiri.

Perdu bukan penjual buku biasa. Perdu menyebut dirinya apotek literatur. Layaknya seorang apoteker, Perdu meresepkan novel-novel kepada pembelinya sebagai obat untuk meringankan kegalauan hidup. Misalnya, ketika seorang wanita yang diceraikan suaminya datang ke apotek bukunya, Perdu menyarankan untuk membaca Elegance of The Hedgehog karya Muriel Barbery.

Perdu lalu menasehati, “Anda perlu ruang tersendiri. Jangan terlalu terang, dengan selalu ditemani anak kucing. Dan buku ini tolong dibaca lambat-lambat agar Anda bisa beristirahat sekali-sekali. Anda akan banyak berpikir dan mungkin sedikit menangis. Untuk diri sendiri. Untuk tahun-tahun yang berlalu. Tapi Anda akan merasa lebih lega setelahnya.” (hlm. 23). Continue reading “Ber(t)obat dengan Buku”

Difabel dan Narasi Ketidaksetaraan

(Solopos, 4 Desember 2017)

Tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas. Ada pergantian dari apa yang dulu kita sebut sebagai Hari Penyandang Cacat. Istilah cacat gampang mengandaikan tubuh manusia seperti barang. Maka istilah yang amat diskriminatif dianggap mendesak untuk diganti. Meskipun demikian, eufemisme bahasa tidak lekas mengangkat kelompok difabel dari posisi inferiornya. Kita masih saja menjumpai ketidakadilan dalam pelbagai narasi tentang difabel.

Selama ini kita masih menyangsikan keterlibatan difabel dalam wacana pembangunanisme. Laju kencang modernitas belum dibarengi pemartabatan bagi difabel. Kelompok difabel masih mendapati dirinya bergelimang pelabelan dan diskriminasi di tengah ruang publik. Kota-kota belum sepenuhnya menjadi cerminan ruang publik yang setara dan inklusif. Sebagai minoritas, narasi difabel masih menjadi warga negara kelas dua dalam pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial, agama maupun budaya.

Di antara isu minoritas lain seperti perempuan, LGBT, dan ras “bukan pribumi”, barangkali difabel adalah minoritas yang paling minim mendapat silang-sengkarut wacana di ruang publik. Setidaknya dapat dilacak dari tidak banyak publikasi menyangkut minoritas difabel yang tampil di surat kabar atau media sosial. Kita menduga, menguatnya islamisme yang kental mewarnai corak masyarakat Indonesia mutakhir, seperti dituturkan Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan (2015), telah turut menyisihkan minoritas difabel dalam wacana arus utama di ruang publik.

Dengan kata lain, wacana difabel terabaikan lantaran tidak bersinggungan langsung dengan perbincangan mengenai Islam dan politik identitas pasca Orde Baru. Misalnya, apabila disandingkan dengan isu-isu minoritas mengenai perempuan atau LGBT yang kerap menjadi perdebatan masif di ruang publik. Argumentasi religiositas dan klaim agama selalu muncul dalam sengat-sengit perdebatan atas isu-isu tersebut. Di sisi lain, dalam Islam—sebagai agama mayoritas—persoalan difabel tidak pernah secara spesifik disebut dan mendapat perhatian serius dalam kajian-kajian. Continue reading “Difabel dan Narasi Ketidaksetaraan”