Menguak Kisah Pedalang Perempuan Penderita Demensia

(Koran Jakarta, 21 Februari 2017)

16583670_645713932279049_3165756952919670784_n

Prosa berlatar belakang Tragedi 1965 di Bali yang ditulis oleh Ni Made Purnama Sari, Kalamata, ini mencoba menghadirkan dampak masa kelam. Sebuah kisah tentang luluh lantaknya kehidupan tokoh figuratif bernama Ni Rumyig. Pembaca diajak mengikuti kisah Ni Rumyig, menelusuri masa lalunya, hingga hanyut berempati terhadap kehidupan seorang yang terpasung dalam ingatan traumatisnya.

Dikisahkan bahwa tokoh Aku, adalah seorang penulis perempuan berusia 25 tahun, diminta untuk menulis biografi hidup, Ni Rumyig. Sebuah pekerjaan ganjil ketika mesti menulis tentang perempuan yang menyandang demensia. Ni Rumyig tak mengingat apapun tentang dirinya, termasuk masa lalunya, kenangan terindahnya hingga siapapun di sekitarnya (hal.16). Demensia adalah sindrom neuro-degeneratif. Seorang yang mengalami demensia akan kesulitan untuk membedakan antara masa kini dan masa lalu. Seperti Alzheimer, mereka menderita kerancuan antara kenyataan dan rekaan.

Pembaca diantar untuk memahami bagaimana seorang penderita demensia. Ni Rumyig adalah seorang perempuan tua berusia enam puluh tiga tahun. Ia cenderung tidak mau berbicara dengan siapapun, melukai diri sendiri, terlihat cemas, dan seperti dicekam ketakutan. Hidupnya tak terlepas dari obat-obatan yang sebenarnya tak cukup berguna.

Masa lalu bagi Ni Rumyig ibarat karat yang meruntuhkan diri dan batinnya perlahan-lahan. Dalam demensianya, dia menjadi seseorang yang menyisih dari kehidupan sekarang, menyimpan rahasia di tepian ingatannya. Bilamana ditanya soal dirinya, kisah masa lalunya, kenangan dan ingatan, Ni Rumyig persis seperti pintu yang rapat terkunci dan aku tidak akan pernah tahu kapankah pintu itu akan terbuka kembali (hal.49).

Selapis demi selapis masa lalu Ni Rumyig mulai tersibak. Ia adalah dalang perempuan mumpuni dan tersohor pada tahun 1980an. Sebagai perempuan, ia mengelola seluruh anggota dalang yang mayoritas laki-laki. Ia tampil di berbagai acara pertunjukan penting, membawakan lakon-lakon pewayangan di istana Tampaksiring, Bali. Padahal, pada saat itu tidak banyak perempuan berprofesi menjadi juru dalang.

Dititik itulah novel ini menjelaskan sebuah adat di Bali pada masa lalu, bahwa perempuan tidak diharapkan hadir dalam pagelaran wayang sampai larut malam, apalagi menjadi dalangnya seperti Ni Rumyig. Masyarakat di Bali menganggap perempuan seperti itu anak luh dadi seluk –boleh dijamah lelaki mana saja.

Konflik hidup Ni Rumyig meruncing ketika disebut sebagai Panak cicing barak –Anak anjing merah (hal.92). Tudingan warga itu tertuju pada keterkaitan Ni Rumyig dengan tragedi 1965. Itu membuat kekaguman dan pujian yang selama ini diterima Ni Rumyig menjadi rasa prasangka dan curiga. Secara bertubi-tubi, mulai dari tuduhan ayah Ni Rumyig yang memiliki hubungan dengan partai komunis di tahun 1960an, sampai munculnya desas-desus buruk terhadap Ni Rumyig sebagai perempuan jalang yang terbiasa tidur dengan banyak lelaki.

Kalamata menyiratkan bahwa peristiwa 1965 telah mewariskan pelbagai prasangka stereotip dan kebencian yang telah menaburkan penderitaan psikologis mendalam. Bahwa dalam kehidupan nyata banyak Ni Rumyig lain yang mengalami tragedi kemanusiaan dan kehilangan seluruh keluarga. Mereka terasingkan dari masyarakat, dari kenangan, dan dirinya sendiri. Menjalani hidup dengan memikul trauma sampai mati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s