Melacak Rijsttaffel, Kuliner Masa Kolonial

(Harian Bhirawa, 24 Februari 2017)

16790025_389571428071113_7522147052961136640_n

Siapa yang mengira gaya penyajian hidangan prasmanan sebenarnya merupakan warisan buffet style ala Eropa yang menggantikan kebiasaan makan sambil duduk berlesehan di lantai. Atau dalam kebiasaan penggunaan sendok dan garpu sebagai peralatan makan untuk menikmati hidangan nasi. Lalu makanan popular semisal perkedel, bistik, semur, dan sup sejatinya diadopsi dari kuliner Barat. Fadly Rahman dalam bukunya, Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 mengajak kita melacak rijsttafel sebagai babakan penting sejarah masuknya pengaruh asing dalam kuliner Indonesia.

Rijsttafel  dikenal sebagai persentuhan budaya kuliner Pribumi dengan Belanda. Rijsttafel merupakan istilah khusus untuk sajian makan nasi eksklusif di kalangan orang Belanda yang kemudian berkembang dan popular. Jika diartikan secara harfiah, rijst berarti nasi dan tafel berarti meja, disatukan menjadi “hidangan nasi” (h.2). Rijsttafel terdiri atas beberapa bagian, hidangan utama (hoofdschotel) yaitu nasi, hidangan tambahan (bijgerechten) terdiri dari sayur, daging, telur, sambal, acar, sup, bakmi. Dan hidangan pencuci mulut (nagerechten) yang biasanya ada buah, kue, dan es dari lemak susu (roomijs).

Jejak-jejak rijsttafel setidaknya banyak terdapat dalam sumber-sumber kolonial pada rentang tahun 1870 hingga 1942. Cerita seputar rijsttafel banyak terselip di dalam sumber-sumber tertulis masa kolonial Belanda seperti buku-buku masak, majalah rumah tangga, foto-foto, hingga karya-karya sastra. Sumber-sumber itu mampu membangun dan menampilkan imaji tentang hidangan nasi yang dipadu-padankan dengan penyajian bergaya Eropa. Menurut Fadly, itulah yang sebenarnya menjadi inti buku ini.

Kemunculan rijsttafel awalnya dimulai dari adanya larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) atau mendatangkan perempuan Eropa ke Hindia di masa itu. Hal tersebut memunculkan terjadinya percampuran darah dengan kaum perempuan Pribumi yang menghasilkan gaya hidup campuran, termasuk dalam urusan makan. Sementara dalam kehidupan rumah tangga para pejabat tinggi Belanda, kebiasaan memercayakan urusan dapur kepada para juru masak Pribumi, telah memengaruhi pola makan serta hidangan yang mereka konsumsi sehari-hari (h.36).

Menurut Fadly, rijsttafel memperlihatkan diskriminasi budaya yang masuk dalam perkara makan. Orang-orang Belanda umumnya memadang rendah berbagai kebiasaan Pribumi. Mereka berpandangan bahwa budaya makan Pribumi seperti makan hanya dengan menggunakan jari tangan, tidak menggunakan piring sebagai alas makan, dan duduk bersila di lantai adalah sesuatu yang rendah. Budaya makan Barat mereka anggap lebih beradap. Dan itulah modifikasi yang dilakukan dalam rijsttafel seperti penggunaan alat-alat makan seperti sendok, garpu, pisau, piring, ditambah meja dan kursi.

Tidak dimilikinya tradisi adiluhung sebagaimana Tiongkok, Prancis, dan Italia membuat orang-orang Belanda berusaha mengemas kebiasaan makan di tanah jajahannya untuk memenuhi gaya hidup sekaligus sebagai daya tarik wisata. Lambat laun risjttaffel menjadi simbol  kemewahan gaya hidup kolonial di Hindia Belanda. Popularitasnya semakin terangkat sebagai paket pariwisata. Hidangan Pribumi menjadi dikenal di mancanegara melalui sajian rijsttafel dan menurut Fadly merupakan konsep wisata kuliner pertama di Indonesia pada awal abad ke 20 yang dikemas melalui penyajian mewah nan memikat di ruang-ruang makan hotel terkemuka.

Istilah rijstaffel mewarnai berbagai media, mulai dari buku masak, majalah rumah tangga, laporan perjalanan, hingga paduan wisata. Buku-buku resep itu antara lain dengan judul Makanlah Nasi! De Indische Rijsttafel (voor Holland), terbit di Den Haag tahun 1922 yang memuat 191 resep, diperuntukkan bagi para wanita Belanda yang baru belajar memasak hidangan rijsttafel (h.48).

Buku ini merupakan suatu hasil riset sejarah kuliner yang dilakukan secara mendalam dan kaya bibliografi. Seperti dikatakan Fadly, buku ini dapat memantik pengetahuan pembaca seputar rijsttafel, sehingga pembaca dapat mengenal rijsttaffel sebagai bagian penting dari sejarah kuliner yang telah mewariskan citarasa kuliner Indonesia saat ini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s