Arie Smit, Maestro Pemburu Cahaya

(Koran Tempo, 11 Februari 2017)

16584983_318608705203239_5605783210135912448_n

Pada 8 Juni 1938 kapal Baloeran mengarungi lautan menuju Hindia Belanda. Perjalanan memakai Mail en Passagiersdienst Rotterdamsche Lloyd itu mengantarkan Arie bersama rombongan tentara Belanda dari pelabuhan Rotterdam menuju Tanjung Priok, Batavia. Usia Arie masih 22 tahun, dan ia sebenarnya tidak menyukai senjata. Barangkali, Arie pada saat itu tidak pernah mengira, takdir yang sempat ia tolak tersebut akan menjadi titik balik dalam biduk hidupnya.

Buku Arie Smit: Hikayat Luar Biasa Tentara Penembak Cahaya garapan Agus Dermawan T ini mengisahkan biografi hidup Arie Smit, seorang maestro lukis kelahiran Belanda dengan nama lengkap Adrianus Wilhelmus Smit. Selama 78 tahun, ia memilih Indonesia sebagai rumah, dan Bali sebagai tambatan hatinya yang tercermin dalam keseluruhan karya-karyanya. Seperti dikatakan Agus Darmawat T, sebagian orang menyebut Arie Smit sebagai pelukis Belanda yang tinggal di Bali. Tapi, Arie Smit selalu menyangkal sebutan itu. Ia minta dicatat sebagai pelukis Bali yang tinggal di Indonesia, atau malah seniman Indonesia yang lahir di Belanda (hlm.1).

Arie Smit, kelahiran Zaandam, Belanda, 1916. Pernah menjadi mahasiswa desain grafis di Academy of Arts di Rotterdam. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1938 untuk mengikuti program wajib militer. Bertugas sebagai tentara sama sekali bukan keinginannya. Ia benci kekerasan. Lantaran itu Arie merasa berbahagia, ia ditugaskan sebagai lithographer untuk tentara Belanda di Topografische Dienst atau Jawatan Topografi di Batavia.

Arie pernah ditangkap oleh pemerintah Jepang pada tahun 1942 dan mesti menjalani kerja paksa di Singapura, Thailand, dan Myanmar. Jembatan Sungai Kwai menjadi rekam episode masa sulit Arie saat menjadi pekerja romusa. Ia baru dibebaskan pada 1945 ketika Jepang kalah perang. Pasca pengakuan kemerdekaan Indonesia tahun 1949, Arie memilih tinggal dengan mencopot seragam tentaranya, dan pada 1951 mengubah kewarganegaraannya. Selepas itu ia mengajar Seni Grafis dan Litografi di Seni Rupa Institute Teknologi Bandung.

Perjalanan Arie ke Bali dengan Sonnega pada tahun 1956, yang diikuti perjumpaan dengan Jimmy Pady, seorang agen lukisan, menjadi awal mula keputusan Arie untuk menetap di Bali. Panorama Bali menjerat hati Arie. Lalu ia mendirikan Young Artist, perkumpulan seni lukis di Dusun Penestanan, Ubud. Berkehendak mengikuti jejak pelukis, Walter Spies, di sana Arie mengajar melukis anak-anak penggembala itik. Mereka dididik Arie untuk melukis secara spontan, tanpa perlu mengingat patron-patron seni tradisional Bali (hlm.74).

Selain Auke Sonnega, Jim Pandi dan Walter Spies, di dalam buku ini Agus Darmawan T menampilkan orang-orang istimewa di sekitar Arie. Sebut aja Miguel Covarrubias, Theophile Suijkerbuijk, Rudolf Bonnet, Jusuf Wanandi, Sultan Takdir Alisjahbana, Han Sneil dan Suteja Neka. Bagi Arie, Neka adalah orang yang sangat berjasa di hari tuanya semenjak tinggal di Villa Sanggingan, Ubud. Neka pun diberi hak oleh Arie untuk memasarkan dan memamerkan karya-karyanya.

Dapat dikatakan Arie Smit turut membiak sekaligus membentuk dunia seni lukis di Bali. Meskipun demikian, dalam khzanah seni lukis Indonesia, sosok Arie Smit tidak begitu dikenal. Menurut Agus Dermawan T, nama Arie Smit hilang dan terhapus dalam berbagai buku sejarah seni rupa yang ditulis sampai tahun 1990. Misalnya, buku Seni Lukis Indonesia Baru karya Saneto Yuliman dkk. (Dewan Kesenian Jakarta, 1978) sama sekali tak menyinggung Arie Smit. Begitu juga buku Seni Lukis Jakarta dalam Sorotan (1974) susunan Sudarmaji. Ironis lantaran buku itu berulang kali menyebut Jank Frank, Romualdo Locateli, C.L. Dake Jr, W.G. Hofker, sampai Rudolf Bonnet. Nama Arie Smit baru muncul dalam buku garapan G.M. Sudarta, Seni Lukis Bali dalam Tiga Generasi (Gramedia, 1975).

Pada Juni 1990 Arie berpameran tunggal di gedung CSIS, Jakarta. Eksistensi Arie yang sempat dianggap “hilang” diperkenalkan kembali ke khalayak. Kritikus Bambang Bujono menulis ihwal karya-karya Arie dalam pameran itu di majalah Tempo edisi 2 Juni 1990, “Arie Smit tampaknya memang akrab dengan alam. Bukan cuma akrab: terkesan dari banyak karyanya ia seolah bukan melihat alam tapi berada dalam alam.” Sementara Rikard Bagun di Kompas 22 Mei 1990 menyebut karya-karya Arie Smit sebagai “realisme puitik” (hlm. 8).

Dalam buku ini mata pembaca akan dimanjakan dengan album lukisan Arie Smit. Ia adalah seorang maestro pemburu cahaya. Panorama Bali yang berlimpah “cahaya” menjadi esensi lukisannya yang termanifestasi dalam setiap sapuan kuas di atas kanvas yang bergelimang warna. Dalam melukis, Ariel selalu menghadirkan lapisan-lapisan warna. Di dalam biru ada biru lain, ada biru yang lain, dan ada biru-biru yang lain lagi.

Arie mengaku, “Ketika datang ke Bali awalnya saya memosisikan diri sebagai pemburu estetik, namun yang saya temukan justru cahaya.” Agus Darmawan T mengutarakan karya-karya Arie merupakan wujud ucapan terima kasihnya kepada matahari. Apabila kita melihat lukisan Arie yang menggambarkan pemandangan kota, persawahan, pohon beringin, gunung, kebun bunga, atau orang-orang di pura, sesungguhnya yang ingin dihadirkan adalah warna, sebagai representasi dari cahaya (hlm.98).

Selain lukisan, buku ini juga memuat karya tulis Arie berupa esai dan kritik seni yang pernah dimuat di koran berbahasa Belanda, Niewsgier dan Het Dagblad, serta majalah Basis. Antara lain ia berbicara mengenai lukisan-lukisan yang menghiasi becak-becak di kota-kota pesisir Jawa. Buku ini terbit setelah Arie Smit meninggal pada Maret lalu. Ditulis dengan penuh simpatik, Agus Dermawan T telah memperlihatkan Arie Smit sebagai salah seorang pelukis terpenting di Indonesia. Lebih dari itu, sosok Arie sebagai cerminan lukisannya bahwa (menjadi) Indonesia bagaikan berkas cahaya yang melampaui sekat-sekat identitas yang subtil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s