Membangun Kebun Teh Era Hindia Belanda

(Koran Jakarta, Juni 2016)

resensi-koran-jakarta-10-juni-2016

Penulis Kenamaan Belanda, Hella S. Haasse (1918-2011) menulis sebuah roman berjudul Sang Juragan Teh, terjemahan Heren van de Three yang pertama kali diterbitkan di Amsterdam, Belanda, 1992. Meskipun sebuah roman, namun bukan “fiksi”. Interpretasi karakter-karakter dan kejadian-kejadian didasarkan pada surat-surat dan dokumen “Arsip Perkebunan Teh dan Keluarga Besar Hindia”, keturunan dan kerabat  para tokoh di dalam novel ini.

Hella Haasse mengambil latar waktu Hindia Belanda pada abad ke XIX dan XX. Pembaca akan diajak menikmati suguhan novel sejarah. Sesuai dengan judulnya, roman ini berkisah tentang para juragan pemilik perusahaan perkebunan teh  di Priangan, Jawa Barat. Dan Rudolf Eduard Kerkhoven menjadi tokoh utama yang mengikat secara keseluruhan alur cerita.

Dikisahkan Rudolf Kerkhoven baru saja menamatkan pendidikan teknik di Delf, Belanda. Ia berniat pergi ke Hindia Belanda dan meneruskan usaha perkebunan teh ayahnya, Rudolph Alvertus Kerkhoven, di Arjasari, daerah Priangan (hal. 29). Ketika sampai di Hindia, ternyata Rudolf tidak diizinkan, melainkan dirinya harus mencari dan membuka lahar baru. Hal tersebut membuat Rudolf kesal dan mendendam pada ayahnya.

Sebelum memiliki perkebunan sendiri, Rudolf magang di perkebunan milik pamannya, Eduard Kerkhoven di perkebunan Parakan Salak, Sukabumi. “Aku banyak belajar tentang teh, yang pasti akan sangat berguna di kemudian hari”, tulis Rudolf dalam surat kepada orangtuanya (hal. 136).
Continue reading “Membangun Kebun Teh Era Hindia Belanda”

Iklan

Broken Home

(Pikiran Rakyat, 27 Maret 2016)

fb_img_147835194208168851

Maraknya kasus nikah-cerai dikalangan artis maupun khalayak ramai membuat istilah “broken home” menjadi sedemikan populer. Alih-alih menggunakan padanan kata dalam bahasa Indonesia seperti keluarga berantakan atau keluarga retak, istilah broken home ini lebih semarak dipakai oleh penutur bahasa kita.

Kecenderungan memakai istilah bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari nyatanya sudah sedemikian akut. Seperti lotion sangat akrab di telinga ketimbang calir atau cairan alir. Atau download untuk mengungkapkan unduh. Juga contact person lebih lazim dipakai, dan bukan narahubung.

Sebenarnya banyak kosa kata bahasa Inggris yang sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Tetapi orang-orang justru merasa tidak akrab dengan padanan kata dalam bahasa Indonesia tersebut. Boleh jadi, ada anggapan bahwa menggunakan bahasa Inggris terasa lebih mentereng. Kesan ini sangat nampak dalam iklan, spanduk, maupun pesan berantai dalam media sosial yang latah memakai istilah bahasa Inggris.

Padahal tugas semua pihak untuk membumikan bahasa Indonesia dalam setiap percakapan dan pelbagai kesempatan. Upaya untuk menyebarkan bahasa Indonesia dalam bahasa lisan dan tulisan. Mestinya kita tak perlu merasa risi mengungkapkan setiap hal dengan bahasa kita. Seperti lema keluarga berantakan sekiranya bisa digunakan untuk broken home.

Menariknya, karena kita memiliki kata majemuk rumah tangga yang juga dipakai untuk menjelaskan keluarga, kita acap kali menemukan, “keretakan rumah tangga” dan “rumah tangga retak”. Mengutip pewartaan sebuah gosip pesohor, “Mulan dicaci sebagai penyebab ‘keretakan rumah tangga’ Ahmad Dhani dengan Maya, mantan istrinya.” Continue reading “Broken Home”

Menelusuri Lahirnya Hallyu Korea

(Koran Tempo, 2 April 2016)

resensi-koran-tempo-2-april-2016

“Korea sama sekali tidak keren pada 1985”. Demikianlah kalimat pembuka dalam buku yang ditulis Euny Hong ini. Di tahun tersebut, Hong –yang ketika itu baru berusia 12 tahun— bersama orangtuanya kembali ke Seoul setelah lama tinggal di Amerika.

Sekarang, Korea (baca: Korea Selatan) melalui gelombang budaya populernya atau yang dikenal sebagai “Hallyu”, telah menjelma menjadi sebuah fenomena yang digandrungi sekaligus menyedot perhatian seluruh dunia. Dalam hanya waktu puluhan tahun, Korea mengalami perubahan yang baru dicapai kebanyakan negara maju setelah ratusan tahun. K-Pop, drama, film, video game, dan makanan cepat saji Korea telah mendominasi wilayah budaya Asia, bahkan semakin moncer di Eropa dan Amerika. Dengan tak merasa berlebihan Hong mengatakan, “Hallyu adalah peralihan paradigma budaya tercepat dan terbesar dalam sejarah modern.”

Secara memikat –ditulis dengan gaya bahasa yang ringan tapi tajam, anekdot yang cerdas, dalam esai berselera humor yang dipadu pengalaman pribadi dan kerja jurnalistik– bagaimana budaya Pop Korea tersebut lahir diceritakan dalam bukunya yang berjudul Korean Cool. Tumbuh besar di Chicago, Hong sempurna untuk memahami Korea yang kompleks secara objektif tapi juga sinis. Ia mengajak kita (pembaca luar-Korea) menelusuri apa sebenarnya di balik ledakan Korean Wave tersebut.

Seperti yang dikatakan Hong, Korea pada 1985 adalah sebuah negara berkembang yang dapat dikatakan memprihatinkan.  Padahal ia tinggal di Gangnam, distrik paling elite di Seoul. Hong berkisah lift Apartemennya sering rusak, kehabisan dan pemutusan aliran air biasa terjadi. Teknologi Korea terkenal sangat buruk pada masa itu. Hong seperti mengalami kaget budaya. Tak seperti di Amerika, kondisi toilet pada tahun 1985 “ya ampun”, kata Hong, yang tercengang menemukan toilet jongkok yang jorok karena cekungan buang airnya tidak bisa disiram.

Lalu bagaimana Korea bisa berubah begitu drastis hanya dalam tiga dekade? Menurut Hong, setiap perubahan yang dialami bangsa maju lahir dari ironi. Korea sejak akhir tahun 1980-an sampai awal 1990-an mengalami pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat tajam. Hong menyaksikan transformasi Seoul dari tempat yang kumuh, sesak, dan berbahaya, menjadi kota besar global yang kaya penuh ironi. Orang-orang berpakaian sangat mewah, tetapi masih nongkrong di tempat parkir karena Seoul tidak ada cukup ruang publik (hlm 13-14).
Continue reading “Menelusuri Lahirnya Hallyu Korea”

Inspirasi dari Sepak Bola

(Harian Nasional, 16 April 2016)

inspirasi-bola

Saat ini dunia sepak bola tanah air sedang dilanda polemik. Padahal sebenarnya banyak hal dalam sepak bola yang dapat menjadi sumber pelajaran hidup. Bagi komedian Iwel Sastra, sepak bola dapat menjadi salah satu rujukan yang pantas menjadi inspirasi hidup, terutama jika kita penggemar sepak bola. Dalam bukunya yang berjudul Inspirasi Sukses dari Sepak Bola, Iwel mengulik sisi-sisi dari sepakbola yang menarik dan disajikan dengan cara jenaka.

“Ada beberapa hal dalam sepak bola yang bisa diadopsi dalam kehidupan dan sangat berguna terutama untuk karier dan bisnis,” begitu kata Iwel Sastra. Di antaranya yang bisa diadopsi itu adalah mengenai management tim, kemampuan individu, komunikasi, mental juara, dan lain sebagainya ( hal 135).

Misalnya dalam managemen tim sepak bola. Setiap menjelang kompetisi semua klub menentukan target mereka. Target masing-masing klub ini berbeda. Ada yang mempunyai target untuk menjuarai kompetisi. Ada yang memiliki target untuk tetap berada di papan tengah klasemen. Ada juga yang memiliki target tidak terlalu muluk yaitu, asal tidak terdegredasi ke divisi yang lebih rendah. Target yang berbeda-beda ini dipengaruhi beragam hal seperti keuangan klub.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, sebaiknya kita memiliki target. Target ini bisa terkait dengan mimpi yang ingin diwujudkan, objek yang ingin dimiliki atau waktu dalam mencapai sesuatu. Sepak bola mengajarkan kita bahwa dengan memiliki target, kehidupan kita bisa lebih terarah dan memiliki semangat dalam menjalaninya.

Kemenangan dalam pertandingan sepak bola bukanlah hasil kerja individu melainkan hasil kerjasama tim. Bagi Iwel, banyak sekali ilmu yang bisa dipelajari dari pertandingan sepak bola terutama soal kerja tim. Pelatih yang super jago menerapkan strategi hebat, tidak akan ada artinya jika para pemain tidak bisa menerapkan strategi yang telah disusun oleh pelatih tersebut. Pemain depan yang super jago akan kesulitan mencetak gol jika tidak dibantu oleh pemain belakang maupun pemain tengah dengan operan bola.
Continue reading “Inspirasi dari Sepak Bola”

Orang-orang Terpilih yang Menginspirasi

(Koran Jakarta, Maret 2016)

koran-jakarta-29-maret-2016

Kick Andy menghadirkan kisah para pahlawan kehidupan yang membawa optimisme dan keteladanan dalam buku Penebar Harapan: Kick Andy, Satu Dekade Menginspirasi. Buku ini menceritakan inspirasi dari kedelapan peraih Kick Andy Heroes Award.

Salah satu inspirasi di antaranya adalah M. Saleh Yusuf. Ia seorang sopir angkot dengan perawakan sangar. Namun di balik itu, ia memiliki rasa keprihatinan dan kepedulian terhadap daerah asalnya, Bima-Nusa Tenggara Barat. Ia memberikan materi dan penghasilannya untuk mendirikan sekolah gratis, merangkul 100 anak dan menghidupi para guru di sekolahnya.

Setiap memikirkan daerah asal, ia merasa keprihatinan yang besar. Salah satunya berkaitan dengan sedikitnya anak-anak yang memiliki kesempatan untuk sekolah dan kurangnya pendidikan agama (hal 72).

Bukan hanya pendidikan agama, lelaki yang kerap disapa alan itu juga mengajarkan keterampilan bekerja. “Di sekolah saya, anak-anak bekerja sambil bermain. Saya suruh mereka tanam cabai, tanam sayur-sayuran. Itu pelajaran bahwa setelah tamat sekolah anak-anak bisa bekerja dengan memanfaatkan hasil alam.” (hal 78). Continue reading “Orang-orang Terpilih yang Menginspirasi”