Luka Psikologis di Balik Keluguan

(Koran Pantura, 13 Oktober 2016)

di-tanah-lada-2015

Gadis kecil itu bernama Salva, atau Ava nama panggilannya. Ava adalah bocah berusia enam tahun, tetapi ia anak yang cerdas dan senang sekali membaca kamus. Kakek Kia, memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava membaca kamus bahasa Indonesia kesayangannya tersebut ketika menemui istilah-istilah yang tidak dipahami oleh anak seusianya.

Malangnya gadis kecil itu memiliki Papa yang pemarah dan membencinya. Ava selalu takut dengan Papanya, Papa mirip monster atau raksasa yang ada di buku cerita dan film kartun; besar, gendut, dan berwajah marah (hlm. 2). Ziggy dalam novel ini memang menggunakan imajinasi dan logika anak dalam gaya bertutur. Pembaca akan disuguhi keluguan bocah dengan cara berpikir serta gaya bicara yang polos, baku dan mirip kamus.

Ava tinggal dalam keluarga yang hampir setiap saat orang tuanya bertengkar. Mengambil sudut pandang anak-anak, bukan berarti menyajikan kisah yang “kekanak-kanakan”. Ziggy sepertinya sengaja agar pembaca dapat menyelami sisi psikologis anak-anak untuk membangun konflik penceritaan. Mencoba memantik kesadaran bahwa anak-anak kerap menjadi korban atas kekerasan, pertengkaran, dan kesalahan orang dewasa, yakni para orang tua. Dan betapa riskannya kemungkinan dampak psikologis yang harus dialami anak-anak.

Cerita dalam novel ini bermula ketika Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah kakek Kia meninggal. Di sanalah Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Ternyata P pun memiliki kisah yang sama dengan Ava. Bocah sepuluh tahun yang tidak tahu siapa ibunya sejak lahir dan Papa yang suka menyiksanya. Kesamaan nasib membuat keduanya kemudian berkawan dan menghadapi kepelikan keluarga masing-masing dengan logika dan cara anak-anak.

Kebersamaan kedua bocah membawa pada percakapan anak-anak yang lugu namun pilu. Mereka menganggap kalau semua Papa di dunia itu jahat. Dengan polos, Ava meminta P untuk tidak pernah menjadi Papa, tetapi menjadi kakek saja agar baik seperti kakek Kia. Lantas rasa kehilangan kasih sayang dari orang tua membuat Ava dan P memandang hidup mereka tidak normal. “Kalau dalam hidup kalian ada orang jahatnya, hidup kalian enggak akan normal,” kata P kepada Ava.

Pelan-pelan Ava dan P tumbuh jadi anak-anak yang skeptis. Berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. “Kuharap kakek Kia ada di sini. Kuharap kakek Kia masih hidup. Tapi, di Jakarta, tidak ada harapan yang bisa terkabul. Tidak ada bintang di langit Jakarta” (hlm. 147). Di balik kepolosannya tersebut, ada luka psikologis yang diderita dua tokoh Ava dan P. Mengendap dalam di sanubari belia mereka yang ringkih.

Rumah yang semestinya menjadi surga bagi anak berubah menjadi neraka dan menyeramkan bagi Ava. Begitu pula P selalu menghindari bertemu Papa yang membencinya. Konflik meruncing ketika P mengajak Ava ke rumahnya dan menunjukkan kamar kardus miliknya. Saat berada di dalam kardus, rupanya Papanya mengetahui keberadaan mereka dan mengamuk. Lengan P disiksa dengan menggunakan setrika.

P dilarikan ke rumah sakit. Sementara Papanya hendak dilaporkan polisi agar dipenjara. Tetapi P justru sedih karena itu artinya dia akan hidup sebatang kara dan tidak lagi memiliki siapa pun. Akhirnya setelah keluar dari rumah sakit, kedua anak tersebut memutuskan untuk melarikan diri. Salva dan P percaya, kebahagiaan hanya akan diperoleh bila pindah ke rumah Nenek Mia di Tanah Lada. “Di tempat nenek kita bisa melihat bintang kan?” Ujar Ava.

Novel Di Tanah Lada ini memberi gambaran dampak psikologis yang bakal dirasakan anak dari kegagalan dan kekerasan dalam rumah tangga. Anak kadang menjadi korban keegoisan kedua orang tua. Orang dewasa merasa selalu benar dihadapan anak-anak. Orang tua kerap tidak sadar telah menabur luka traumatis pada anak.

Perjalanan ke tanah lada adalah kisah anak-anak yang mencari harapan. Pada kehangatan dan kasih sayang yang tidak mereka peroleh dari orang tua. Tidak heran P dan Ava keduanya kerap meracau tentang reinkarnasi. Dengan alasan yang teramat lugu, P ingin menjadi badak, sementara Ava ingin menjadi anak ayam. Tapi kemudian di akhir cerita keduanya meralat dan memutuskan menjadi seperti pasangan penguin yang setia sehidup semati.

Novel pemenang ke II pada sayembara menulis DKJ 2014 ini sarat akan keluguan daya imajinasi kanak-kanak yang rapuh. Anak-anak korban keluarga berantakan yang bingung mencari kebenaran hidup. Seperti yang dituturkan oleh Salva, “Sulit menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Namun lebih sulit menemukannya di dunia nyata” (hlm. 210).

di_tanah_lada_koran_pantura_13_okt_161

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s