Menikmati Potongan-potongan Cerita Senja

(Koran Jakarta, 10 Juni 2016)

p_20160827_0700581

 

Alina tercinta, bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Demikian cara cerpenis kenamaan Indonesia Seno Gumirah Ajidarma menyihir pembaca ketika memulai cerita pendeknya dalam Sepotong Senja Untuk Pacarku. Melalui gaya penulisan semacam surat yang begitu romantis, cerita pendek yang ia tulis pada tahun 1991 itu mengisahkan senja dengan eksotis, sekaligus penuh kiasan dan makna.

Cerita berlatar di zaman ketika berkirim dan berbalas surat masih menjadi tradisi antar kekasih. Dan sesuai judulnya, diceritakan Sukab sengaja mengirimkan sepotong senja yang dia masukan ke dalam amplop untuk pacarnya, Alina. Sukab ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata, “Dunia sudah sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi.” (hal. 5).

Dalam cerpen tersebut, senja dibikin oleh Seno bukan sekadar panorama keindahan langit sore, tetapi telah menjadi sebuah ungkapan kasih sayang. Dengan gaya surealis Seno menulis, “Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kurekatkan pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.”

Sukab telah mencuri senja. Ia pergi meninggalkan cakrawala berlubang sebesar kartu pos, dikejar banyak orang, dan menjadi buronan polisi. Semua demi sepotong senja untuk Alina.

Kisah kasih antara Sukab dan Alina berlanjut dalam cerita pendek Jawaban Alina, yang Seno baru tulis 10 tahun kemudian. Mengisahkan bagaimana akhirnya Alina menerima surat beserta senja yang Sukab kirimkan, juga baru tiba setelah 10 tahun. Selama itu pula ternyata Alina telah menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia. Dan Alina nyatanya tak pernah mencintai Sukab secuil pun.

Tentang mengapa senja itu begitu lama sampai, ternyata tukang pos yang mengantarkan surat itu penasaran dengan cahaya senja yang memancar dari amplop itu. Ia membukanya dan tiba-tiba terseret ke dalam amplop.

Seno dalam ceritanya memang menyelipkan pelbagai alegori tentang kehidupan manusia yang murung. Seperti ketika Alina membayangkan apa yang terjadi dengan pak pos selama 10 tahun di dalam amplop, “Apakah di dunia ini sebetulnya seperti amplop ya Sukab, di mana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa.” (hal. 22).

Pertanyaan Alina tentang nasib tukang pos itu dapat kita ketahui dengan membaca cerita pendek Tukang Pos dalam Amplop. Cerita-cerita pendek Seno tentang senja memang ibarat sebuah pizza. Setiap cerita seperti potongan-potongan yang saling terhubung. Selain Trilogi Alina tersebut, masih ada 13 cerita pendek lain seperti Kunang-kunang Mandarin atau Hujan, senja, dan Cinta.

Keindahan senja memang banyak membuat orang merasa terkesima. Melalui cerita pendek Seno, senja ditulisnya dalam berbagai pendekatan dan konteks. Mulai dari gejala alam kasat mata, tetapi juga sebagai konstruksi struktural dan tematik yang dimungkinkan oleh subjek bernama senja.

Semua cerita pendek dalam buku ini Seno tulis dari kurun 1991-2007. Seno mengakui dirinya sebagai pencinta senja, yang baginya senja sebagai ruang-waktu mewah dalam hidup. Pelbagai cerita pendeknya tentang senja merupakan sebagai bentuk perburuannya untuk menangkap kesempurnaan senja, sebagai pemandangan maupun sebagai makna, yang dari saat ke saat terungkap dari cerita ke cerita.

Judul               : Sepotong Senja Untuk Pacarku

Penulis             : Seno Gumirah Ajidarma

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : I, 2016

Tebal               : 208 halaman

ISBN               : 978-602-03-1903-2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s